Era "Bakar Uang" Sudah Lewat, Startup dengan Strategi Ini yang Menjadi Pilihan Investor
JAKARTA, investortrust.id - Perusahaan rintisan berbasis teknologi (startup) yang fokus mengejar valuasi dan skala pasar tidak lagi menjadi incaran investor, seperti beberapa tahun lalu. Kini, investor cenderung menyasar startup yang dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan risiko pengembangan bisnisnya.
Chairman Nexticorn Foundation, Rudiantara mengungkapkan, investor kini lebih memilih menanamkan modalnya di startup yang bisnisnya mulai menguntungkan alih-alih memberikan pendanaan ke startup untuk mengejar valuasi dan skala pasar lewat strategi "bakar uang", seperti beberapa tahun silam.
Baca Juga
Pemerintah Ogah Beri Bantuan Permodalan untuk Startup, Ini Alasannya
Investor, menurut Rudiantara, tidak lagi melihat sejauh mana startup mampu menjaring pengguna atau konsumen produknya dalam waktu singkat lewat strategi tersebut. Bagaimana keberlanjutan bisnis yang dijalankan menjadi pertimbangan apakah sebuah startup layak untuk mendapatkan pendanaan.
"Perbedaannya, dari sisi investor, orientasi mereka sekarang adalah pertumbuhan. Makanya kalau dulu kan banyak-banyakan kalau pakai platform pembayaran online (daring) itu dapat cashback. Beli ini dan itu dapat diskon, bebas ongkir (ongkos kirim). Sekarang nggak bisa lagi begitu," kata Rudiantara dalam konferensi pers NextHub Global Summit di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Jakarta Pusat, Selasa (10/9/2024).
Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) itu menilai perubahan cara pandang investor terhadap startup memberikan dampak positif terhadap ekosistem startup di Indonesia. Jumlah startup yang tutup karena bisnisnya tidak dikelola dengan baik dan hanya mengandalkan pendanaan dari investor untuk bertahan bisa jauh berkurang dari sebelumnya.
"Orientasinya adalah ke profitabilitas, EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi)-nya positif kapan? Untungnya kapan? Cashflow-nya (arus kas) tidak lagi ditunjang oleh investor kapan? Orientasi sudah berbeda," tegas dia.
Rudiantara mengungkapkan, perubahan orientasi investor terhadap startup tidak terlepas dari turunnya investasi di industri teknologi atau tech winter.
Mengutip laporan Crunchbase, kuartal I-2024 menjadi rekor pendanaan startup global terendah kedua sejak awal 2018. Tercatat, pendanaan ventura global menjadi US$66 miliar pada kuartal I-2024. Angka ini naik 6% secara kuartalan (q to q), tapi anjlok 20% secara tahunan (yoy).
"Bukan hanya di Indonesia tech winter (terjadi), itu di seluruh dunia terjadi. Di negara tetangga kita yang paling banyak berkompetisi (startup dengan Indonesia) itu Vietnam. Pada semester I-2024 turun pendanaan startup-nya hingga 50% dibanding tahun lalu," tutur dia.
Baca Juga
Pendanaan Startup Mulai Sulit, Menteri BUMN Singgung Musim Dingin Investasi
Terjadinya tech winter, kata Rudiantara, tidak terlepas dari tren kenaikan suku bunga bertubi-tubi di Amerika Serikat (AS) akibat inflasi yang sulit dikontrol. Belum lagi tekanan geopolitik yang memanas dan pergantian kepemimpinan di beberapa negara membuat ekosistem industri teknologi secara global sedang menghadapi tantangan.
"Tetapi kita berharap akhir tahun ini setidaknya mulai mengucur lagi untuk startup. Karena semua bergantung kepada AS, The Fed sudah menyatakan bahwa akhir tahun ini akan menurunkan suku bunga," ujar dia.
Rudiantara menambahkan, apabila suku bunga turun, investor lebih memilih berinvestasi di sektor riil, termasuk di sektor teknologi. Soalnya, keuntungan yang didapatkan bakal jauh lebih besar dibandingkan instrumen investasi yang imbal hasilnya mengacu pada suku bunga, seperti deposito dan surat utang.

