Dirut InJourney Airports Jelaskan Simplifikasi Teknologi untuk Optimalkan Layanan di Bandara
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports Faik Fahmi menjelaskan, penggabungan Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II membuat “obesitas”-nya dokumen tata kelola. Setidaknya terdapat 1.400 dokumen tata kelola dari penggabungan ini.
“Dengan adanya penggabungan ini, integrasi ini, kita sekaligus melakukan Omnibus Regulation,” ujar Faik ditemui di kantor InJourney, Jakarta, Senin (9/9/2024).
Untuk menyiapkan layanan terbaik bagi 37 bandara yang dikelola, Faik menjelaskan telah membuat simplifikasi terhadap 1.400 dokumen tersebut menjadi 96 dokumen. Simplifikasi tersebut dilakukan melalui penyaringan.
“Kemudian kita punya 145 inisiatif teknologi IT, kita simplifikasi hanya 49,” ujar dia.
Baca Juga
Direktur Utama InJourney Sebut Pendapatan Non-Aero Tumbuh hingga 49% YoY
Faik menjelaskan simplifikasi teknologi dikelompokkan menjadi tiga kategori, yakni teknologi bandara, terminal, dan enterprise. Tiga kategori ini, kata dia, akan digabung dalam satu kesatuan big data.
“Satu big data yang akan kita gunakan sebagai dasar kita untuk mengambil keputusan-keputusan penting di organisasi,” kata dia.
Baca Juga
InJourney Optimistis Perputaran Ekonomi di MotoGP Mandalika 2024 di Atas Rp 4,3 Triliun
Faik berharap merger Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II tidak hanya menyelesaikan masalah industri aviasi di Indonesia. Dia menjanjikan akan melakukan terobosan agar industri aviasi terintegrasi dengan layanan pariwisata.
“Ini salah satu manfaatnya dari InJourney, karena kita mengembangkan bisnis berbasis ekosistem. Kalau dulu bandara jalan sendiri, pelaku jalan sendiri. Dengan adanya InJourney ini kita menjadi terintegrasi dengan mengacu kepada ekosistem itu. Jadi kita saling support,” ujar dia.

