Anindya Bakrie: Indonesia dapat Jadi Pusat Dekarbonisasi Dunia
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) Anindya Novyan Bakrie menyebutkan Indonesia dapat menjadi pusat dekarbonisasi dunia. Pesan ini disampaikan Anindya saat menghadiri Indonesia International Sustainability Forum (ISF).
“Kita diberkati dengan biodiversitas, kekayaan alam di bawah tanah, dan hal-hal lain yang dimiliki di atas tanah, benar-benar memungkinkan kita untuk menjadi pemimpin dalam dekarbonisasi. Saya suka mengatakan, kita mungkin adalah “Mekah”-nya dekarbonisasi,” kata Anindya dipantau daring, Jumat (6/9/2024).
Meski didukung sumberdaya melimpah, dia mengatakan, Indonesia memerlukan langkah untuk memberdayakan masyarakat. Sebagai bagian dari 20 negara dengan perekonomian terbaik di dunia, Indonesia memiliki PDB sebesar US$ 1,5 triliun dolar.
Baca Juga
“Tapi, jika Anda menghitung cepat, itu sekitar kurang dari US$ 5.000 dolar per kapita. Jadi, kita juga perlu tumbuh dan meningkatkan kesejahteraan maysarakat dengan cara yang adil, karena kita tidak bisa meninggalkan masyarakat begitu saja,” ujar dia.
Anindya mengatakan, elektrifikasi menjadi bagian untuk membuka jalan menuju status negara maju bagi Indonesia. “Ini adalah opsi yang harus kita kejar. Itulah mengapa saya percaya bahwa Indoensia sebenarnya bisa tidak hanya mencapai net zero (emission)” kata dia.
Anindya mengatakan, peluang investasi di sektor elektrifikasi Indonesia sebesar US$ 1,6 triliun dolar. Investasi memang menjadi bagian penting bagi Indonesia, namun diperlukan investasi yang menggerakkan nilai tambah.
“Jadi, Anda memproses investasi tersebut sehingga kami dapat mengkespor produk yang bernilai tambah,” kata dia.
Baca Juga
Semester I-2024, Penjualan VKTR Teknologi (VKTR) Capai Rp 409 Miliar
Untuk itulah, Anindya memaparkan alasan Bakrie & Brother Group masuk ke dalam industri transportasi. Dia mengatakan, terdapat sekitar 10.000 unit bus yang dapat digunakan sistem elektrifikasi.
“Itu sebabnya kami fokus pada hal ini, bukan hanya karena angkanya besar yang dapat menghasilkan banyak industrialisasi, yang berarti kami tidak hanya akan menyediakan bus, kami ingin memproduksi bus, dan kami sedang memulai pabrik yang hampir selesa di Magelang,” kata dia.
Langkah ini, kata Anindya, disebut turut membantu mengatasi masalah polusi. Sebab, polusi udara telah menyebabkan penyakit pernapasan dengan total biaya kesehatan mencapai Rp 10 triliun. “Belum lagi subsidi bahan bakar berkisar US$ 7 miliar, dan beberapa pengeluaran operasional dari menjalankan mesin pembakaran internal,” ujar dia.

