Perkuat Kerja Sama dengan Australia, Wamenlu RI Dorong Pengolahan Mineral Kritis
JAKARTA, investrotrust.id - Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Pahala Mansury menyampaikan akan melanjutkan kerja sama dengan Australia untuk menciptakan produk industri terkait dengan pengolahan mineral kritis. Dengan kolaborasi tersebut diharapkan nantinya akan tercipta rantai pasok global yang kuat di bidang pengolahan mineral kritis.
"Beberapa jenis mineral tertentu, seperti litium dan nikel dari Indonesia diharapkan bisa dikembangkan, agar Indonesia dan Australia bisa memproduksi barang di bidang pengolahan mineral kritis, sehingga bisa memproduksi baterai bagi ekosistem manapun," kata Pahala di Sydney, Australia Kamis (5/9/2024).
Sebelumnya, Pahala menyampaikan dirinya telah bertemu Wakil Menteri Perdagangan Australia dan sudah mendiskusikan mengenai hal tersebut. Dirinya mengaku optimistis melihat potensi yang ada Indonesia saat ini, terlebih Australia merupakan negara kategori middle power.
Baca Juga
Jalin Kemitraan yang Kuat dengan Australia, BNI (BBNI) Resmikan Kantor Perwakilan di Sydney
Selain itu, Pahala menyampaikan bahwa Australia ingin menjadi pemain aktif terkait mineral kritis ini. "Australia ingin menjadi salah satu pemain yang berperan aktif dalam industri pengolahan mineral kritis, terkait transisi energi, termasuk baterai, solar photovoltaic cells (PV) atau panel surya, dan lain sebagainya," ungkap dia.
Informasi saja, hingga Februari 2024, Pemerintah Australia menganggap 31 komoditas sumber daya alam sebagai mineral penting. Komoditas-komoditas ini dipilih dengan menilai potensi dan kekayaan geologis Australia dalam memenuhi kebutuhan teknologi global, khususnya kebutuhan negara-negara mitra seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, India, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris.
Terkait hal tersebut, Pahala menekankan harapannya Indonesia bisa melakukan hal yang sama. Terlebih Indonesia dan Australia sudah memiliki kerja sama dalam bentuk comprehensive strategic partnership (CSP).
Kerja sama tersebut meliputi beberapa bidang ekonomi dan pembangunan, hubungan masyarakat, pertahanan dan keamanan, kerja sama maritim, dan kerja sama regional.
Baca Juga
Mejeng Australia, Produk Makanan Minuman RI Cetak Potensi Transaksi Segini
"Jadi kita berharap kalau tadinya sebelumnya kita memiliki ranking nomor 12 sebagai trade partner Australia, Australia menjadi trade partner nomor 8 buat Indonesia, kita berharap nantinya ke depannya meningkatkan pertumbuhan dari sisi perdagangan lebih tinggi daripada yang kita lihat pada saat ini," ujar Pahala.
Selain itu, Pahala menekankan Australia juga memiliki jumlah pendanaan yang cukup besar, seperti superannuation fund yang merupakan dana yang dikumpulkan dari dana pensiun di Negeri Kangguru tersebut.
"Jadi kita harapkan bisa dimobilisasi juga untuk berinvestasi di beberapa sektor strategis antara Indonesia dan Australia seperti sektor konektivitas, sektor baterai ataupun green energy tadi seperti critical mineral, sektor pertanian dan makanan, serta sektor layanan termasuk pendidikan dan jasa rumah sakit," tandas Pahala.

