Indonesia Perluas Kerja Sama Mineral Kritis dengan Afrika untuk Produksi Baterai Kendaraan Listrik
BADUNG, investortrust.id - Indonesia membuka peluang untuk memperluas kerja sama dengan negara-negara Afrika terkait mineral kritis untuk pembuatan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/ EV).
“Untuk menghasilkan sebuah baterai listrik, kita memerlukan banyak mineral kritis yang tidak terbatas hanya pada nikel. Banyak mineral lain, dan kita tahu bahwa beberapa negara Afrika juga memiliki potensi mineral kritis,” ujar Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Abdul Kadir Jailani dalam konferensi pers di sela-sela rangkaian Indonesia-Africa Forum (IAF), Badung, Bali, Minggu (1/9/2024), seperti dilansir Antara.
Abdul Kadir merujuk pada kerja sama yang sudah berlangsung, yakni kerja sama antara MIND ID dan Tanzania terkait litium.
Ia menekankan bahwa kerja sama tersebut menunjukkan kebutuhan akan mineral kritis untuk membuat baterai EV tidak cukup apabila hanya mengandalkan mineral dari dalam negeri.
Baca Juga
RI-Kanada Bahas 20 Isu di Putaran Ke-8 ICA-CEPA, Ada Dialog soal Mineral Kritis
“Kerja sama energi ini sangat bermanfaat buat kita karena untuk proses transisi energi, Indonesia juga memerlukan mineral kritis dan kita ketahui, suplainya tidak hanya kita produksi sendiri,” tuturnya.
Selain potensi mineral kritis yang dimiliki oleh negara-negara di Afrika, Abdul Kadir juga mengatakan bahwa Afrika memiliki potensi yang sangat besar di bidang perdagangan.
Ia menambahkan bahwa hubungan bisnis Indonesia dengan Afrika sebelumnya masih tergolong cukup rendah. Oleh karena itu, menurut dia, sudah waktunya Indonesia mengambil langkah untuk mempererat hubungan bisnis dengan negara-negara di Afrika.
“Sudah waktunya Indonesia melakukan outreach. Kita melakukan reorientasi, di mana kita sekarang melihat bahwa pasar Afrika merupakan untapped potential, yang sudah waktunya untuk kita manfaatkan secara optimal,” kata Abdul Kadir.
Baca Juga
Kementerian ESDM Ungkap Rencana Pengembangan Mineral Kritis dan Strategis
Kementerian ESDM telah menetapkan 47 jenis komoditas tambang dalam klasifikasi mineral kritis. Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM No.296.K/MB.01/MEM.B/2023 tentang Penetapan Jenis Komoditas yang Tergolong dalam Klasifikasi Mineral Kritis. Ke-47 mineral kritis tu di antaranya Aluminium, Besi, Kadmium, Kobal, Litium, Logam Tanah Jarang, Magnesium, Mangan, Merkuri, Nikel, Palladium, Platinum, Tembaga, Timah, Titanium hingga Zirkonium.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membidik benua Afrika untuk menjadi pasar baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), dalam rangka ekspansi industri kendaraan listrik Indonesia.
“Populasi di Afrika akan berlipat ganda pada 2045. Ini akan menjadi pasar yang besar,” ujar Luhut ketika memberi sambutan dalam acara International Battery Summit di Jakarta, Senin (29/7/2024).
Oleh karena itu, Indonesia dengan gencar mengajak negara-negara di benua Afrika untuk bekerja sama. Guna membangun kerja sama tersebut, kata Luhut, ia sempat berkunjung ke Afrika untuk menjalin komunikasi terkait industri kendaraan listrik.
“Mereka melihat Indonesia sebagai negara yang dapat membantu mereka terkait kendaraan listrik ini,” kata Luhut.

