Belanja Mamin Diproyeksi Capai US$ 194 Miliar di 2030
JAKARTA, Investortrust.id - Sektor industri makanan dan minuman (Mamin) dinilai masih mampu bertumbuh kendati sempat terpukul akibat merebaknya pandemi Covid-19. Buktinya kinerja industri makanan dan minuman mampu mencatatkan pertumbuhan PDB industri sebesar 5,53% pada triwulan II tahun 2024, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDB nasional sebesar 5,05%.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam kata sambutannya di pembukaan Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2024 resmi dibuka Rabu, 4 September 2024, yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Penguatan Kemampuan Industri Dalam Negeri, Ignatius Warsito.
“Kinerja industri makanan dan minuman yang berangsur pulih dengan mencatatkan pertumbuhan PDB industri makanan dan minuman sebesar 5,53% pada triwulan II tahun 2024, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDB nasional sebesar 5,05% dan industri non-migas sebesar 4,63%,” kata Warsito yang mewakili Menperin di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (4/9/2024).
Pada periode yang sama, lanjut Warsito, industri makanan dan minuman berkontribusi sebesar 40,33% terhadap PDB industri pengolahan non-migas, sehingga menjadikannya sebagai subsektor dengan kontribusi PDB terbesar.
Baca Juga
Gapmmi: Bahan Baku Terigu dan Gula untuk Industri Makanan Minuman Masih Impor 100%
Dari sisi permintaan, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia yang pengeluaran untuk makanan dan minuman akan meningkat lebih dari 5%, dan diproyeksikan mencapai US$ 194 miliar pada tahun 2030.
Industri food ingredients Indonesia pun tercatat mengalami pertumbuhan yang didorong oleh meningkatnya permintaan domestik, dan minat global terhadap produk alami dan berkelanjutan. Sejauh ini, Indonesia telah dikenal dengan reputasi yang baik dalam memproduksi food ingredients dengan kualitas tinggi seperti minyak kelapa sawit dan produk kelapa hingga rempah-rempah seperti lada, kunyit, jahe, dan cengkeh.
Nilai ekspor rempah-rempah utuh Indonesia mencapai US$ 469 juta, terbesar nomor 5 dunia. Berbanding terbalik dengan ekspor produk olahan rempah dimana Indonesia hanya menduduki peringkat 18 di dunia dengan nilai US$ 360 juta.
“Market share produk olahan rempah dunia adalah sebesar US$ 22 miliar, hal ini menunjukkan peluang hilirisasi industri pengolahan rempah yang meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal dalam negeri masih sangat besar. Produk-produk olahan rempah merupakan komponen penting dalam berbagai aplikasi makanan dan minuman, termasuk makanan olahan, pangan fungsional, dan suplemen gizi,” kata Warsito.
Pada hari yang sama, pameran bahan pangan Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2024 resmi dibuka, dengan lebih dari 700 branded supplier dari 38 negara ikut bergabung dalam gelaran ini. Dalam pameran edisi ke 28 ini, akan dihubungkan industri makanan dan minuman dengan industri bahan baku yang memproduksi berbagai macam ingredients sehingga dapat mendorong inovasi dan ide baru. Ajang ini juga diharapkan mampu menumbuhkan pemasok bahan baku potensial baru, dan solusi baru untuk pengembangan dan peningkatan industri makanan dan minuman di masa depan.
Baca Juga
Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2024 Digelar, Ada 700 Brands dari 38 Negara
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman mengatakan, Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2024 menjadi ajang yang harus dimanfaatkan para pelaku industri untuk membuka jaringan, berkomunikasi, serta menjalin relasi dengan para pelaku bisnis di kawasan Asia.
“Akses ke berbagai produk food ingredients terkini dapat dengan mudah didapat dari 700 eksibitor, mulai dari Asia hingga Eropa. Manfaatkan juga sesi konferensi serta seminar, seperti salah satunya mengenai sertifikasi halal yang merupakan isu menarik di industri makanan dan minuman saat ini. Selain itu, para pelaku industri juga dapat langsung melakukan diskusi dengan berbagai ahli melalui seminar teknis yang telah disediakan,” kata Adhi.
Sementara itu Ketua Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan (PATPI), Prof Dr Giyatmi mengatakan, pendorong utama dalam transformasi di industri makanan dan minuman adalah inovasi teknologi. Dengan perkembangan teknologi, diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi sehingga dapat memberikan harga yang bersaing.
“Tentunya hal ini akan menjadi poin positif yang dapat mendorong pertumbuhan industri makanan dan minuman, dan diharapkan dapat mendorong inovasi, meningkatkan daya saing industri pangan nasional secara global yang dapat memperkuat ketahanan pangan,” tutur Giyatmi.
Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia memungkinkan seluruh pemangku kepentingan di bidang makanan dan minuman untuk belajar, berjejaring, dan berbisnis melalui rangkaian acara yang diselenggarakan pada 4-6 September 2024 di JIExpo. Pameran ini terbuka bagi semua yang tertarik pada bidang usaha makanan dan minuman.

