Kementerian ESDM Ungkap Progres Proyek Listrik Berbasis Energi Hijau
JAKARTA, investortrust.id - Salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan Nationally Determined Contributions (NDC) adalah dengan mengembangkan potensi energi terbarukan di sektor ketenagalistrikan.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Jisman Hutajulu menyampaikan, pengembangan sektor ketenagalistrikan tersusun dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Hijau 2021-2030 PLN dengan total projek pembangkit sekitar 41 Giga Watt (GW).
“Terdapat di dalamnya 21 GW atau 52% proyek yang berasal dari pembangkit EBT," kata Jisman Hutajulu dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (4/9/2024).
Baca Juga
Harga Minyak Merosot 4,9%, Sentuh Level Terendah Sepanjang 9 Bulan
Jisman memaparkan bahwa telah ada 12 GW proyek pembangkit yang telah selesai, sedangkan sisanya sebesar 18,7 GW proyek masih dalam tahap perencanaan.
Menurut Jisman, proyek pengembangan listrik hijau berbasis energi baru terbarukan (EBT) ini merupakan sebuah kesempatan bagi investasi luar negeri untuk berkontribusi lewat skema Independent Power Producer (IPP) atau kontraktor Engineering, Procurement and Construction (EPC).
"Pembangkit EBT yang dapat dikembangkan terdiri dari PLTA 7 GW, PLTS 4,4 GW, PLTP 2,2 GW dan sisanya 2,3 GW pembangkit EBT lainnya. Total kebutuhan investasi diperlukan sebesar USD28 miliar," tutur Jisman.
Pemerintah dan PLN kini sedang membahas target pengembangan pembangkit EBT yang baru yang diperkirakan akan meningkat dari 21 GW di dalam RUPTL eksisting menjadi 33 GW di dalam Draft RUPTL yang baru sehingga meningkatkan bauran EBT dari 52% menjadi 76%.
Baca Juga
Pegadaian Kembali Jadi Sponsor Utama Kompetisi Liga 2 Musim 2024 – 2025
Berdasarkan proyeksi normal, demand listrik saat ini akan meningkat sampai 72 GW di tahun 2033. Proyeksi tersebut mengalami peningkatan lewat penambahan demand baru yang signifikan dari Industri Smelter dan Data Center. Hal ini berdampak pada peningkatan demand di Pulau Jawa yang umumnya tumbuh sebesar 1 GW per tahun berubah menjadi 3 GW per tahun.
"Untuk memenuhi demand tersebut, kita membutuhkan percepatan pengembangan pembangkit EBT yang masif. Kita memiliki potensi EBT yang besar lewat tenaga surya, bioenergi, angin, dan panas bumi dengan total 1.233 GW di Sumatera dan 518 GW di Kalimantan," ungkapnya.
Jisman tidak memungkiri, penyediaan listrik berbasis EBT masih terdapat kendala dalam pengembangan karena sumber-sumber EBT berada di Pulau Sumatera, sementara pelanggan listrik terbanyak berada di luar Pulau Sumatera.
"Penyediaan energi bersih saat ini masih terkendala dengan adanya mismatch antara potensi pemanfaatan energi terbarukan dimana sumber-sumber energi terbarukan berada di pulau Sumatera dan Kalimantan dengan Demand Center di pulau Jawa, Sulawesi, dan Batam," ujar Jisman.

