Kadin: Talenta Digital di Indonesia Masih Minim dan Terpusat di Jawa
JAKARTA, investortrust.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan Indonesia menghadapi tantangan dari minimnya jumlah talenta digital. Selain jumlahnya yang minim, talenta digital yang ada di Tanah Air juga masih belum tersebar merata.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Komunikasi dan Informasi, Firlie Ganinduto mengatakan sebagian besar talenta digital yang terampil terpusat di Jawa dan tidak terdistribusi secara merata di seluruh Indonesia. Jakarta memiliki persentase penduduk dengan kecakapan digital tertinggi (92%), jauh di atas rata-rata Indonesia yang hanya 75%.
Sementara menurut riset Bank Dunia dan McKinsey laporan Asian Development Bank, Indonesia membutuhkan 9 juta talenta digital selama periode 2015–2030, atau rata-rata 600.000 orang per tahun.
“Kesenjangan ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti akses internet berkecepatan tinggi yang terbatas, sistem pendidikan yang belum sepenuhnya mendukung pengembangan keterampilan digital, dan peluang terbatas untuk memperoleh keterampilan digital di luar Pulau Jawa,” katanya dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema "Mengatasi Tantangan dan Memanfaatkan Peluang di Sektor Komunikasi dan Informatika Indonesia" di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Jumat (30/8/2024).
Baca Juga
Sebagai catatan, diskusi kelompok terarah atau FGD tersebut diikuti oleh perwakilan dari kementerian dan lembaga terkait, pelaku usaha, hingga akademisi. Mereka akan membahas sejumlah tantangan yang ada, mulai dari kesenjangan digital, ancaman keamanan siber, hingga pemerataan sumber daya manusia cakap digital.
Firlie melanjutkan, segala tantangan tersebut hanya bisa diatasi apabila semua pemangku kepentingan berkolaborasi untuk mencari solusi bersama. Hal itulah yang mendorong Kadin Indonesia berinisiatif menggelar FGD yang bertujuan untuk memetakan dan menganalisis tantangan yang ada. Kemudian membahas dan merumuskan rekomendasi kebijakan strategis untuk menjawab tantangan tersebut, sekaligus meningkatkan sinergi antar pemangku kepentingan.
“Diskusi ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi panduan untuk strategi dan kebijakan di masa depan yang lebih sinergis dan efektif," tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengatakan sektor telekomunikasi dan informatika di dunia, termasuk Indonesia, masih menghadapi tantangan. Pertama, tantangan kesenjangan konektivitas di mana 3,4 miliar populasi dunia belum memiliki akses internet, padahal 90% tinggal di area yang sudah dijangkau layanan seluler.
Baca Juga
Indonesia Masih Kekurangan Talenta Digital, Begini Upaya Kemenkominfo
“Soal kesenjangan digital yang penyelesaiannya harus melalui pendekatan ekosistem, pendekatan sektor atau industri, dan juga pendekatan wilayah. Selanjutnya, soal kesenjangan talenta digital. Pada tahun 2030, diperkirakan Indonesia membutuhkan 12 juta talenta digital," katanya
Budi Arie menambahkan, apabila tidak dilakukan terobosan, maka Indonesia hanya bisa mencapai 9 juta talenta digital. Keterbatasan talenta digital membuat makin tertinggal dalam mengejar ekosistem bisnis digital yang akan tumbuh di masa depan.
Tantangan berikutnya adalah risiko keamanan siber. Menurut Budi Arie, Ancaman keamanan siber seperti kebocoran data menjadi salah satu risiko utama yang dihadapi industri telekomunikasi dan informatika, seperti serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 yang menjadi sorotan beberapa waktu lalu.

