IHSG Terjun hingga Net Sell Saham Massif, Biang Kerok Danantara dan Penurunan Peringkat MSCI Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali anjlok pada perdagangan Kamis (27/2/2025) sebanyak 120,72 poin (1,83%) ke level 6.485. Indeks terpantau tertekan sejak awal sesi, meski sempat sentuh level tertinggi 6.626 sebelum akhirnya jatuh ke titik terendah di 6.443.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai, penurunan indeks tersebut juga dipengaruh berlanjutnya tekanan jual saham oleh investor asing. Berdasarkan catatan net sell saham mencapai Rp 1,78 triliun, dengan aksi jual terbesar terjadi pada saham big caps seperti BBRI Rp 593 miliar, BBCA Rp 526 miliar, BMRI Rp 452 miliar, dan BRIS Rp 78 miliar.
“Salah satu pemicu utama tekanan ini adalah keputusan Morgan Stanley yang menurunkan peringkat saham MSCI Indonesia dari equal weight menjadi underweight. Lembaga ini menilai return on equity (ROE) saham-saham di Indonesia terus melemah, sementara pertumbuhan ekonomi masih stagnan,” kata Hendra kepada investortrust.id Kamis, (27/2/2025).
Baca Juga
Menurut Ahli Strategi Morgan Stanley, Jonathan Garner, investasi terhadap PDB Indonesia bergerak sideways sepanjang 2025, yang berisiko menekan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan. Akibatnya, investor global lebih memilih untuk mengalihkan portofolio mereka ke negara lain di ASEAN yang dinilai lebih prospektif.
Hendra juga melihat tekanan terhadap IHSG semakin diperparah oleh ketidakpastian pasar terhadap keberadaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). “Institusi yang digadang-gadang sebagai Temasek-nya Indonesia ini diharapkan mampu mengoptimalkan aset negara dan menarik investasi asing, malah menjadi boomerang bagi pasar saham,” terang Hendra.
Namun, masih banyak pertanyaan yang muncul terkait efektivitas dan transparansi pengelolaannya. Hendra memandang investor tampaknya masih ragu apakah Danantara akan benar-benar menjadi katalis positif bagi perekonomian atau justru menambah risiko baru bagi stabilitas keuangan negara.
Baca Juga
Danantara Diluncurkan, tapi Saham-Saham Emiten BUMN malah Berguguran
Sentimen ini tercermin dari tekanan besar pada saham-saham perbankan, yang mayoritas melemah tajam. BMRI turun 5,28%, BBRI melemah 2,85%, dan BRIS ambles hingga 8,36%.
“Meskipun sentimen negatif mendominasi, kondisi ini juga membuka peluang bagi investor yang jeli dalam mencari saham berfundamental kuat dengan valuasi yang sudah lebih murah,” ucap dia.
Beberapa saham yang bisa dipertimbangkan untuk akumulasi antara lain EMTK dengan target harga Rp 600, PSAB di level Rp 290, dan ANTM dengan target Rp 1.745. “Sektor tambang, terutama emas dan nikel, bisa menjadi pilihan defensif di tengah ketidakpastian pasar,” jelasnya.
Baca Juga
Net Sell Rp 1,87 Triliun, Asing Lagi-lagi Buang Saham Bank Ini
Dari sisi teknikal, Hendra mencermati IHSG saat ini berada dalam tren turun dengan kecenderungan menguji support psikologis di level 6.400. Jika level ini tidak mampu bertahan, tekanan jual bisa semakin besar.
Namun, jika ada sentimen positif yang muncul, rebound teknikal masih berpotensi terjadi dengan resistance 6.600. “Dalam kondisi seperti ini, strategi terbaik bagi investor adalah tetap selektif dalam memilih saham, menghindari kepanikan, dan fokus pada saham dengan prospek jangka panjang yang kuat,” bebernya.

