Afrika Jadi Pasar Baru Indonesia
JAKARTA, investortrust.id -Pemerintah Indonesia menargetkan negara-negara Afrika menjadi tumpuan pasar ekspor nasional pada masa mendatang. Afrika sangat potensial menjadi pasar baru karena memiliki kedekatan historis dengan Indonesia dan berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global di masa depan.
“Jadi, Afrika menjadi tujuan deversifikasi pasar ekspor agar ekspor kita tidak terkonsentrasi ke 1-2 negara atau kawasan saja. Dengan demikian, saat terjadi guncangan di negara-negara tersebut, kinerja ekspor kita tetap aman,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Pahala Nugraha Mansury dalam diskusi dengan Forum Pemred di Jakarta, Kamis (22/8/2024), tentang rencana penyelenggaraan Indonesia Afrika Forum ke-2 (IAF ke-2).
Menurut Pahala, untuk mendiversifikasi pasar ekspor, pemerintah akan memperbanyak perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (comprehensive economic partnership agreement/CEPA) dengan negara-negara Afrika.
Baca Juga
Kemenlu Siapkan “Grand Design” Diplomasi Ekonomi, Ini Tujuannya
Pahala mengungkapkan, Indonesia memiliki kedekatan historis dengan negara-negara Afrika. Itu karena Indonesia merupakan tuan rumah Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 yang melahirkan semangat solidaritas Global South, yaitu solidaritas yang muncul akibat ketimpangan negara-negara Utara (negara maju) dengan negara-negara Selatan (negara berkembang).
“Momentum Platinum Jubilee tahun depan akan menghidupkan lagi solidaritas Global South dengan kepentingan hak atas pembangunan, hilirisasi, serta pengembangan industri bernilai tambah tinggi dan transisi energi berkeadilan,” kata Pahala yang didampingi Direktur untuk Urusan Afrika Kemenlu, Dewi Justicia Meidiwaty serta Direktur Informasi dan Media Kemenlu, Hartyo Harkomoyo.
Pahala menegaskan, di masa depan, negara-negara Afrika akan memainkan peranan yang kian penting. Soalnya, Afrika memiliki 10% cadangan minyak dan 8% cadangan gas dunia. Afrika juga kaya mineral kritis. Sekitar 55% cadangan kobalt, 48% cadangan mangan, dan 22% cadangan grafit dunia ada di Afrika.
“Populasi Afrika pun terus meningkat. Pada 2050, populasi Afrika diperkirakan mencapai 2,5 miliar jiwa atau 25% dari populasi dunia,” tandas dia.
Pahala Mansury menjelaskan, Afrika bakal menjadi kawasan strategis bagi diversifikasi pasar Indonesia. “Afrika adalah pasar ekspor yang sangat besar serta pemasok migas dan mineral kritis yang amat potensial. Juga sebagai tujuan outbound investment dan memperluas global influence,” papar dia.
Dia menambahkan, potensi Indonesia-Afrika mencakup produk domestik bruto (PDB) senilai total US$ 4,4 triliun, populasi total 1,7 miliar jiwa, serta sumber daya alam migas dan mineral kritis. Dari sisi populasi, Indonesia dan Afrika memiliki populasi berusia produktif masing-masing 60% dan 40%.
“Berdasarkan data Bank Pembangunan Afrika, pertumbuhan ekonomi di kawasan itu mencapai 3,2% pada 2023, dan diestimasikan naik menjadi 3,8% pada 2024,” ucap dia.
Demi Indonesia Emas 2045
Indonesia, kata Pahala, berkepentingan memperkuat kerja sama dengan negara-negara Afrika guna mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 atau menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita di atas US$ 30.000.
Visi lain Indonesia adalah menekan tingkat kemiskinan mendekati 0%, mengurangi ketimpangan, meningkatkan Human Capital Index dan Global Power Index, serta menurunkan intensitas emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 93,5%.
Di sisi lain, menurut Pahala, Afrika punya 2063 Agenda, meliputi pertumbuhan ekonomi inklusif dan pembangunan berkelanjutan, Pan Africanism and African Renaissance, Afrika yang damai dan aman, identitas budaya dan warisan budaya yang kuat, nilai dan etika, serta people-driven development.
Baca Juga
Indonesia Bidik Kesepakatan Bisnis Rp 56 Triliun dari IAF Ke-2
“Agenda lain Afrika yaitu menjadi mitra dan pemain global yang kuat, bersatu, tangguh, serta berpengaruh,” ujar dia.
Pahala Mansuri mengemukakan, Indonesia dan Afrika memiliki kebutuhan pangan yang tinggi. Kedua pihak memiliki lahan yang luas dengan iklim yang baik. “Ini mendatangkan potensi perdagangan dan supply chain pangan, pupuk, dan pengembangan biofuels,” tegas dia.
Dia mengatakan, dari sisi ketahanan energi, Afrika dapat menjadi sumber energi migas dan dapat mengembangkan kerja sama energi terbarukan. Di sisi kesehatan, Indonesia dan Afrika memiliki kebutuhan tinggi terhadap obat, vaksin, dan alkes. “Itu mendatangkan potensi perdagangan obat, vaksin, dan alkes, serta joint development and production,” tandas dia.
Adapun dari sisi ketahanan mineral, Indonesia dan Afrika memiliki cadangan mineral kritis untuk transisi energi, seperti nikel, kobalt, grafit, dan mangan. “Kedua negara bisa mengembangkan supply chain produksi komponen dan baterai electric vehicle (EV),” tutur dia.

