Kemenlu Siapkan “Grand Design” Diplomasi Ekonomi, Ini Tujuannya
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Pahala Nugraha Mansury mengungkapkan, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) tengah menyiapkan desain besar (grand design) diplomasi ekonomi sebagai landasan bagi pemerintah untuk melakukan diplomasi dan negosiasi dengan negara-negara lain di bidang ekonomi.
“Kami sudah menyelesaikan dan mengusulkan pembahasan tentang peraturan khusus yang terkait dengan grand design diplomasi ekonomi. Ini menjadi prioritas kami,” kata Pahala menjawab investortrust.id dalam diskusi dengan Forum Pemred di Jakarta, Kamis (22/8/2024), tentang rencana penyelenggaraan Indonesia Afrika Forum ke-2 (IAF ke-2).
Pahala ditanya seputar anggapan bahwa diplomasi Indonesia cenderung lemah saat bernegosiasi dengan negara-negara lain, khususnya di bidang ekonomi. Diplomasi yang lemah menyebabkan berbagai kerja sama ekonomi, termasuk perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA), kerap merugikan Indonesia.
Baca Juga
Pahala Mansury menjelaskan, grand design yang akan dijadikan peraturan khusus itu tengah diusulkan untuk dibahas dengan kementerian/lembaga (K/L) terkait lain.
“Intinya adalah bagaimana kita punya diplomasi ekonomi yang bagus dan kuat untuk mengamankan kepentingan nasional, khususnya di bidang ekonomi. Untuk melakukan diplomasi yang bagus, tentu kita juga harus memperkuat infrastrukturnya,” ujar dia.
Grand design diplomasi ekonomi, menurut Pahala, mencakup penguatan berbagai hal yang berkaitan dengan diplomasi Indonesia dengan negara-negara lain di bidang ekonomi, baik secara bilateral maupun multilateral, termasuk diplomasi dan negosiasi untuk pembentukan pakta atau blok ekonomi.
“Yang diperkuat antara lain mencakup koordinasi antar-K/L serta data-data dan informasi ekonomi (intelijen ekonomi),” tutur Wamenlu yang didampingi Direktur untuk Urusan Afrika Kemenlu, Dewi Justicia Meidiwaty serta Direktur Informasi dan Media Kemenlu, Hartyo Harkomoyo.
Penguatan, kata Pahala Mansury, juga mencakup sumber daya manusia (SDM) para ujung tombak pemerintah Indonesia di luar negeri, dari dubes, konsul, hingga atase.
“Kita akan memperkuat pengetahuan dan pemanahamn para diplomat kita. Dengan begitu, diplomasi ekonomi kita berjalan lebih baik. Ini memang sudah lama menjadi perhatian khusus kami,” tegas dia.
Perbanyak FTA dan CEPA
Pahala mencontohkan, Kemenlu sudah memberikan berbagai pelatihan secara intens kepada para diplomatnya untuk menginformasikan secara lengkap dan detail perihal produk-produk andalan Indonesia yang dipasarkan di luar negeri.
“Misalnya untuk memasarkan pesawat CN-235, kami beri pelatihan-pelatihan khusus tentang CN-235, keunggulannya seperti apa, sampai detail. Kami berulang kali menggelar pertemuan di sini (Kemenlu), mengundang dubes-dubes kita untuk membahas industri-industri unggulan, termasuk tentang minyak sawit dan nikel,” papar dia.
Pahala Mansury mengemukakan, selain merancang grand design diplomasi ekonomi, Kemenlu berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah mendorongdiversifikasi pasar ekspor, dari pasar tradisional (AS, China, Uni Eropa) ke pasar nontradisional (Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin).
Baca Juga
Menurut Pahala, diversifikasi pasar ekspor diperlukan agar Indonesia memiliki banyak pasar, tidak hanya terkonsentrasi ke 1-2 negara atau kawasan saja. Dengan demikian, saat terjadi guncangan di negara-negara tersebut, kinerja ekspor Indonesia tetap aman. Hal yang sama dilakukan terhadap aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).
Pahala menambahkan, untuk mendiversifikasi pasar ekspor, pemerintah antara lain akan memperbanyak perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (comprehensive economic partnership agreement/CEPA). Perluasan FTA dan CEPA antara lain tengah difokuskan ke Afrika dan Amerika Latin.
“Mau tidak mau, FTA dan CEPA harus diperbanyak. Sebab, kalau negara-negara tujuan ekspor sudah menjalin FTA dan CEPA dengan negara-negara lain, sedangkan dengan kita belum, produk dan jasa kita akan kalah kompetitif,” tandas dia.

