Industri Tekstil Nasional Ambruk Termasuk Sritex, Asosiasi Ungkap Dua Penyebab Ini
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmaja menyebutkan masalah geopolitik global menjadi faktor penyebab utama kejatuhan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) hingga berujung pada kebangkrutan sejumlah perusahaan.
Yang terbaru dialami oleh perusahaan tekstil yang terbesar, yakni PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex, harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 3.000 karyawannya demi mewujudkan efisiensi pada bisnis perusahaannya.
Baca Juga
Mengenai fenomena industri tekstil yang terus mengalami kesulitan itu, Jemmy mengatakan, geopolitik global membuat barang impor dari China membanciri negara-negara yang pengaturan impor barang cenerung lemah, termasuk Indonesia. Banjirnya produk dari negara Tirai Bambu itu karena permintaan dari negara tujuan ekspor terjadi penurunan.
"Ada penurunan permintaan pakaian jadi dari negara tujuan ekspor awalnya, bukan Indonesia saja. Jadi contohnya China itu mengekspor ke Amerika, ke Eropa, ke Jepang, itu ada penurunan," ucap Jemmy kepada Investortrust.id, Kamis (27/6/2024).
Dikarenakan terdapat kelebihan kapasitas itu, China akhirnya menjual ke negara yang dianggap lemah dalam aturan barang impor. Menurut Jemmy, hal tersebut terjadi disebabkan adanya relaksasi aturan barang impor yang terjadi di Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor.
"Ya makanya kita sangat sayangkan munculnya Permendag 7 dan Permendag 8 yang berakibat barang-barang pakaian jadi dari China dengan mudahnya masuk ke Indonesia. Karena tanpa melalui Pertek ya, pertimbangan teknis," terangnya.
Baca Juga
Barang Impor Kian Marak, Asosiasi Minta Pemerintah Selamatkan Industri Tekstil Dalam Negeri
Mengenai isu kebangkrutan Sritex tersebut, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita sempat memberikan tanggapannya. Ia mengatakan bahwa pihaknya akan mempelajari isu yang berkembang tersebut.
“Itu harus kita pelajari mengapa bangkrut,” ujar Agus di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (24/6/2024).
Sebelumnya, Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) mendata sebanyak 13.800 pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam periode Januari hingga Juni 2024 ini. Belasan ribu pegawai itu berasal dari perusahaan tekstil yang menutup pabriknya dan melakukan efisiensi perusahaan.

