Rencana Garuda (GIAA) Masuk Holding, Begini Tanggapan InJourney
JAKARTA, investortrust.id – PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney memastikan penggabungan usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) ke holding BUMN Aviasi dan Pariwisata akan terealisasi dalam waktu dekat.
Direktur Pemasaran & Program Pariwisata InJourney Maya Watono mengatakan, Garuda akan bergabung dengan InJourney selambat-lambatnya akhir tahun ini. “Masih dalam kajian, tantangannya banyak, semoga semuanya berjalan dengan lancar, targetnya tahun ini [terealisasi],” katanya kepada InvestorTrust ketika ditemui di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2024).
Baca Juga
Naik 3%, InJourney Airports Layani 7,4 Juta Penumpang Selama Lebaran 2024
Lebih lanjut, Maya menyebut, pihaknya belum bisa memberikan informasi secara detail terkait penggabungan usaha Garuda Indonesia ke InJourney. Namun yang jelas, aksi korporasi itu tidak sekadar untuk meningkatkan keuntungan perusahaan, baik dari sisi Garuda Indonesia maupun InJourney.
“Jadi, kita ini kan punya purpose, purposenya lebih besar dari sekadar profitability [keuntungan] Ini untuk bangsa dan negara kita menata ulang air connectivity [konektivitas udara] dan ekosistem pariwisata Indonesia,” tuturnya.
Oleh karena itu, Maya menyebut, pihaknya tidak menargetkan besaran kontribusi Garuda Indonesia terhadap pendapatan InJourney apabila nantinya benar-benar bergabung. Saat ini, pendapatan terbesar InJourney masih disumbang oleh pengelola bandar udara PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airport.
Baca Juga
Sebagai catatan, InJourney Airport merupakan hasil dari merger PT Angkasa Pura I (AP I) dan PT Angkasa Pura II (AP II). Merger kedua perusahaan tersebut ditargetkan rampung sepenuhnya pada akhir 2024, baik dari segi administrasi maupun teknis operasional.
“Kita tidak melihat lagi [kontribusi] dari AP I atau AP II masing-masing. Kita melihatnya profitability by airport [keuntungan per bandar udara]. Kontribusinya dari seluruh grup pendapatan ada di 65% disusul aviation service [pelayanan penerbangan] InJourney Aviation Service,” paparnya.
Untuk pendapatan, pada kuartal III-2023 InJourney berhasil membukukan pendapatan operasional sebesar Rp 17,42 triliun atau meningkat hingga 58% secara tahunan (year on year/YoY). Kenaikan tersebut membuat perusahaan berhasil membalikkan membalikkan kerugian sebesar Rp 2,16 triliun pada kuartal III-2024 menjadi keuntungan Rp1,14 triliun pada kuartal III-2023.
Baca Juga
Angkut 5,42 Juta Penumpang, Pendapatan Garuda Indonesia (GIAA) Naik 18%
InJourney merupakan holding BUMN aviasi dan pariwisata yang beranggotakan PT Angkasa Pura Indonesia, PT Hotel Indonesia Natour, PT Sarinah, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko yang dibentuk pada Oktober 2021. Pada 2023, pemerintah juga menyerahkan mayoritas saham pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) ke perusahaan ini.
“Dampak positifnya [penggabungan Garuda Indonesia] itu jangka panjang. Bisa 5 sampai 10 tahun ke depan benar-benar dirasakan. Dalam buku putih, airlines [maskapai penerbangan] direncanakan masuk dalam ekosistem InJourney dan terintegrasi,” pungkasnya.

