Garuda Indonesia (GIAA) Gabung ke InJourney, Ini Dampaknya ke Pariwisata Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Rencana penggabungan usaha PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) ke holding aviasi dan pariwisata PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney diharapkan membuat sektor pariwisata Tanah Air jadi lebih bergairah.
Menurut pengamat BUMN dari Universitas Indonesia Toto Pranoto, penggabungan usaha Garuda Indonesia ke InJourney membuat destinasi pariwisata Indonesia makin kompetitif. Sebagai entitas induk, InJourney dapat menawarkan paket wisata untuk menarik minat wisatawan berkunjung, baik domestik maupun mancanegara.
“Kalau memang (penggabungan usaha) ini berjalan, InJourney akan menjalankan usahanya dari hulu ke hilir. Dia bisa kasih bundling package ke wisatawan. Harga jual bisa lebih kompetitif,” katanya ketika dihubungi oleh InvestorTrust pada Rabu (8/5/2024).
InJourney merupakan holding BUMN aviasi dan pariwisata yang beranggotakan PT Angkasa Pura Indonesia, PT Hotel Indonesia Natour, PT Sarinah, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko yang dibentuk pada Oktober 2021. Pada 2023, pemerintah juga menyerahkan mayoritas saham pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) ke perusahaan ini.
Baca Juga
Garuda Indonesia Siapkan 14 Pesawat Angkut 109.000 Jamaah Haji 2024
Toto menyebut penjualan paket wisata melalui perusahaan holding aviasi dan pariwisata sudah dilakukan oleh Malaysia sejak beberapa tahun lalu. Negeri Jiran diketahui telah menyiapkan holding yang membawahi sejumlah perusahaan vital nasional, termasuk maskapai penerbangan Malaysia Airlines yang kondisinya sempat terseok-seok.
“Mereka [Malaysia] membuat holding perusahaan yang di dalamnya ada Malaysia Airlines untuk mendorong industri pariwisatanya di bawah Khazanah National Bhd. Itu membuat daya saing mereka membaik dan Malaysia Airlines akhirnya tertolong,” tuturnya.
Terkait dengan bisnis Garuda Indonesia yang baru saja “bangkit” usai Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), Toto menyebut penggabungan usaha ini juga akan sangat membantu maskapai plat merah itu.
Tingkat keterisian pesawat atau load factor bisa dimaksimalkan apabila penggabungan usaha ini terealisasi. Terlebih, Garuda Indonesia berencana untuk meningkatkan kapasitas angkutnya dengan mengaktifkan kembali armadanya yang mangkrak bermodalkan suntikan Penyertaan Modal Negara (PMN) Rp7,5 triliun.
Baca Juga
Rencana Garuda (GIAA) Masuk Holding, Begini Tanggapan InJourney
Hingga Maret 2024 emiten bersandi GIAA itu diketahui mengoperasikan sekitar 60 unit pesawat udara. Ditargetkan hingga akhir 2024 jumlah unit pesawat udara yang dioperasikan Garuda Indonesia bertambah hingga 80 unit.
“Kalau memang kondisi ekonomi makin baik dan tidak ada sesuatu seperti pandemi Covid-19 kondisinya akan overdemand (permintaan berlebih), shortage (kekurangan) pesawat. Load factor (tingkat keterisian) penuh. Kalau mereka join di InJourney bisa makin baik itu,” ujar Toto.
Terpisah, Direktur Pemasaran & Program Pariwisata InJourney Maya Watono mengatakan Garuda Indonesia akan bergabung dengan InJourney selambat-lambatnya pada akhir tahun ini. Aksi korporasi itu menurutnya membutuhkan waktu dan proses yang tidak singkat.
“Masih dalam kajian, tantangannya banyak, semoga semuanya berjalan dengan lancar, targetnya tahun ini (terealisasi),” katanya kepada Investortrust ketika ditemui di Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2024).
Lebih lanjut, Maya menyebut pihaknya belum bisa memberikan informasi secara detail terkait penggabungan usaha Garuda Indonesia ke InJourney. Namun yang jelas, aksi korporasi itu tidak sekadar untuk meningkatkan keuntungan perusahaan, baik dari sisi Garuda Indonesia maupun InJourney.
“Jadi, kita ini kan punya purpose, purpose-nya lebih besar dari sekadar profitability. Ini untuk bangsa dan negara kita menata ulang air connectivity (konektivitas udara) dan ekosistem pariwisata Indonesia,” tuturnya.

