Pelacakan Jadi Kunci Pemerintah Perkuat Posisi Sawit Hadapi EUDR
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan pelacakan atau traceability menjadi salah satu modal penting bagi industri sawit di pasar global. Dia mengatakan pelacakan minyak kelapa sawit ini juga untuk menghadapi European Union Deforestation-free Regulation (EUDR).
“Traceability itu penting karena diminta global market, jadi Direktorat Jenderal Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian sudah melakukan paparan untuk mekanisme untuk memonitor kebun rakyat,” kata Airlangga saat Rakornas Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN KSB) 2019-2024, di Jakarta, Kamis (28/3/2024).
Airlangga mengatakan pelacakan juga menjadi standar dari Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Dengan standar ISPO, asal minyak kelapa sawit bisa dilacak secara digital.
Saat ini, realisasi sertifikasi ISPO pasca terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN KSB) Tahun 2019-2024 yaitu telah mencapai sebanyak 883 perusahaan dan 52 koperasi/kelompok pekebun.
Baca Juga
Respons EUDR, Pemerintah Ingin Kebijakan Petani Sawit Rakyat dan ISPO Dipercepat
Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Abdurrachman mengatakan pelacakan sumber minyak sawit menjadi penting karena produk ekspor ke Uni Eropa perlu terbebas dari hasil deforestasi.
“Pak Menko menyebut yang penting adalah traceability. Larangan itu mulanya Desember 2020, apabila semua input yang masuk untuk dikirim tadi setelah Desember 2020 nggak masalah tinggal kita ciptakan sistem itu tadi,” kata Eddy kepada investortrust.id.
Penyerapan Minyak Kelapa Sawit
Saat ini, kata Airlangga, ekspor produk sawit Indonesia telah menjangkau lebih dari 125 negara untuk memenuhi kebutuhan pangan, energi, dan berbagai industri hilir lainnya. Dia mengatakan, pemerintah juga mendorong Mandatory Biodiesel yang sudah mencapai B35 dan mengujicoba B40.
Baca Juga
Strategi Sawit Nasional: Memimpin Dunia, Rakyat Harus Sejahtera
“Dan realisasi penyerapan biodiesel domestik 2023 mencapai 12,2 juta kiloliter dan ini sangat mempengaruhi penyerapan penggunaan CPO dalam negeri,” kata Airlangga.
Berdasarkan data Februari 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut ekspor minyak kelapa sawit Indonesia mengalami penurunan volume permintaan dari negara mitra, seperti China, India, dan Eropa. Ekspor minyak kelapa sawit dan produk turunannya tercatat sebesar US$ 1,20 miliar atau turun 30,39% secara bulanan dibanding Januari 2024 sebesar US$ 1,72 miliar.
BPS menduga penurunan kinerja ekspor minyak kelapa sawit dipengaruhi jalur perdagangan baru melalui Kesepakatan Biji-Bijian Laut Hitam yang ditandatangani Rusia. Kesepakatan ini membuat harga minyak bunga matahari di wilayah Eropa menjadi lebih murah.
Menurut Eddy, menurunnya volume ekspor minyak kelapa sawit itu karena juga terpengaruh harga komoditas kompetitor yaitu soybean atau minyak kedelai. Harga minyak kedelai mengalami penurunan ketika harga minyak kelapa melonjak.
“Karena harga sawit cenderung naik, sedangkan soybean itu di bawahnya, banyak negara-negara pengguna atau pengimpor itu switch ke minyak kedelai,” kata Eddy.

