Hilirisasi Sumbang 34% Investasi Nasional, Jadi Andalan Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Heldy Satrya Putera, mengatakan hilirisasi menjadi salah satu penopang utama investasi nasional di tengah upaya pemerintah mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Hingga kuartal III 2026, kontribusi hilirisasi terhadap total investasi nasional telah mencapai 34%, dengan sektor mineral kritis menjadi salah satu penggerak utamanya.
Heldy menyebut, investasi memiliki kontribusi sekitar 29% terhadap perekonomian nasional, berada di posisi kedua setelah konsumsi. Karena itu, investasi dinilai menjadi salah satu sumber pertumbuhan yang perlu terus diperkuat untuk mendorong perekonomian ke depan.
"Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menuju 8%, maka harus ada hal, terobosan yang harus kita lakukan. Nah, salah satunya adalah mengenai hilirisasi," ujar Heldy dalam Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Dia menjelaskan, pemerintah membutuhkan investasi sekitar Rp 13.000 triliun selama periode 2025–2029 untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8% tersebut. Sementara itu, realisasi investasi pada Januari–September 2026 telah mencapai Rp 1.539,2 triliun, tumbuh 7,3% dibandingkan periode yang sama, atau setara 75,4% dari target investasi 2026 sebesar Rp 2.041,3 triliun.
Baca Juga
Investasi Hilirisasi Mineral Capai Rp 584 Triliun, Koalisi ResponsiBank Indonesia Soroti Hal Ini
Dari total realisasi tersebut, investasi hilirisasi menyumbang sekitar 32% sepanjang Januari–September 2026. Kontribusinya bahkan meningkat menjadi 34% pada kuartal III 2026. Heldy juga menyebut sektor mineral kritis mendominasi investasi hilirisasi dengan kontribusi sekitar 70%.
"Kontribusi dari hilirisasi terhadap seluruh investasi dari Januari sampai September sekitar 32%. Bahkan di triwulan ketiga tahun 2026, kontribusi hilirisasi sudah 34%," beber Heldy.
Berdasarkan asal wilayah, realisasi investasi hingga kuartal III 2026 di luar Pulau Jawa mencapai Rp 779,4 triliun atau 50,6% dari total investasi nasional. Sementara itu, Pulau Jawa mencatatkan investasi Rp 759,8 triliun atau 49,4%. Komposisi tersebut menunjukkan investasi di luar Jawa telah melampaui kontribusi Jawa, sejalan dengan berkembangnya kegiatan hilirisasi mineral di sejumlah daerah.
Dari sisi sumber modal, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 761,4 triliun atau 49,5%, sedangkan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 777,8 triliun atau 50,5%. Komposisi yang relatif berimbang ini menunjukkan realisasi investasi nasional tidak hanya ditopang modal asing, tetapi juga partisipasi investor domestik.
Heldy mencontohkan, pengembangan industri nikel di Sulawesi dan Maluku Utara turut mendorong aktivitas ekonomi di luar Pulau Jawa. Namun, dia mengakui ekspansi industri tersebut juga membawa konsekuensi yang perlu diperhatikan, terutama terkait dampak lingkungan dan persoalan sosial di wilayah operasi.
"Kami tahu bahwa bukan hanya dampak ekonomi, tapi dampak terhadap lingkungan dan sebagainya menjadi suatu permasalahan," sebut Heldy.
