Permintaan Nikel Global Diproyeksi Naik 21,39%, Indonesia Perkuat Hilirisasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Permintaan nikel global diproyeksikan meningkat 21,39% dari 3.717 kiloton pada 2026 menjadi 4.512 kiloton pada 2031, menurut Shanghai Metals Market (SMM). Pertumbuhan kebutuhan baterai dan baja nirkarat membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas hilirisasi hingga menghasilkan produk akhir dan meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.
Direktur Indef Green Transition Initiative (GTI) Imaduddin Abdullah menilai pertumbuhan pasar tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat struktur industri nasional. Menurutnya, pengembangan industri nikel tidak cukup berhenti pada pengolahan bahan mentah menjadi produk setengah jadi.
"Peningkatan permintaan nikel global ini peluang besar bagi Indonesia. Kuncinya, kita harus memperdalam hilirisasi sampai ke produk akhir, bukan berhenti di produk antara (intermediate product)," kata Imaduddin dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).
Baca Juga
PPATK dan MIND ID Perkuat Pencegahan Pencucian Uang di Sektor Tambang
Ia menjelaskan, pengembangan produk akhir dapat memperkuat keterkaitan antarindustri atau industrial linkage. Proses tersebut juga berpotensi memperluas keterlibatan pemasok lokal dalam rantai produksi, mulai dari penyediaan bahan baku hingga komponen dan produk jadi. "Semakin kompleks produk yang dihasilkan, semakin besar pula dampak ekonomi yang dirasakan oleh industri dan pemasok lokal di dalam negeri," jelasnya.
Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA) Rachmat Makkasau juga menilai industri hilir memiliki peran penting dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral. Untuk itu, peningkatan kapasitas produksi perlu berjalan beriringan dengan pengembangan industri pengolahan lanjutan agar manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada tahap awal produksi.
"Nilai tambah yang lebih tinggi itu ada pada industri hilir. Tugas utama kita sebenarnya mendorong peningkatan industri hilir di Indonesia," tegas Rachmat.
Langkah memperluas industri hilir mulai terlihat dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. Grup MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC), bersama konsorsium CATL–Brunp–Lygend melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), mengembangkan fasilitas pabrik baterai di Karawang, Jawa Barat.
Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas awal 6,9 gigawatt-jam (GWh), dengan target ekspansi hingga 15 GWh. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan nikel Indonesia ke industri baterai, yang membutuhkan material dengan spesifikasi tertentu untuk mendukung produksi kendaraan listrik.
Pengembangan rantai industri juga berlangsung di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Proyek hilirisasi di kawasan tersebut mencakup produksi material baterai berbasis nikel, baterai, aluminium elektrolit, serta alat berat berbasis listrik dalam satu kawasan industri terintegrasi.
Pengembangan fasilitas tersebut memperlihatkan arah hilirisasi yang tidak hanya mengandalkan pembangunan smelter, tetapi juga menghubungkan pengolahan mineral dengan manufaktur dan industri pengguna. Namun, perluasan kapasitas pengolahan tetap menghadapi tantangan ketika pasokan meningkat lebih cepat daripada kebutuhan pasar.
Baca Juga
MIND ID Ungkap 5 Tantangan Pengelolaan Minerba Nasional, Ini Rinciannya
Pemerintah pun mengkaji kebijakan untuk mengarahkan investasi ke tahap pengolahan yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah mempertimbangkan moratorium bagi smelter yang hanya menghasilkan produk antara.
Kebijakan tersebut dikaji di tengah ancaman kelebihan pasokan atau oversupply nikel dunia yang diperkirakan mencapai sekitar 2,5 juta ton. Selain mengendalikan pertumbuhan pasokan, pemerintah ingin mendorong pelaku industri mengembangkan produk lanjutan yang dapat memperbesar nilai ekonomi di dalam negeri. "Sekarang kan hilirisasi itu kan yang kita inginkan adalah ending-nya nilai tambah 100% di sini (dalam negeri)," tegas Bahlil di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada Jumat (17/10/2025).
