Karhutla Bikin Okupansi Hotel Kalimantan Anjlok hingga 10%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Umum DPP Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Haryadi Sukamdani mengungkap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak besar terhadap sektor pariwisata, khususnya perhotelan dan restoran di wilayah Kalimantan. Tingkat okupansi hotel bahkan bisa tersisa 10%-20%.
Menurut Haryadi, dampak karhutla memperberat tekanan yang sebelumnya dirasakan pelaku usaha akibat efisiensi anggaran pemerintah. Kondisi tersebut terutama dirasakan di Kalimantan yang memiliki ketergantungan besar terhadap pasar pemerintah.
Baca Juga
Karhutla Ancam Kesehatan Warga, DPR Desak Pemerintah Kerahkan Kekuatan Penuh
"Kalau ditanya besarannya terus terang kami belum ada hitung-hitungannya, tapi yang jelas untuk di sektor saya aja deh hotel dan restoran itu misalnya ya, itu bisa okupansinya itu bisa tinggal 10%, 20% begitu karena kepukulnya dua kali kan, dari tamu luar kota enggak bisa datang. Di dalam provinsi juga efisiensi anggaran susah," kata Haryadi di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Ia menilai, gangguan penerbangan akibat asap karhutla membuat tamu dari luar daerah kesulitan datang. Pada saat bersamaan, efisiensi anggaran pemerintah turut menekan aktivitas perjalanan dinas dan kegiatan di daerah.
Haryadi menambahkan, kondisi di Kalimantan lebih berat karena keterbatasan jalur transportasi darat dibandingkan dengan Sumatra yang memiliki Tol Trans-Sumatra.
"Jadi, untuk wilayah Sumatra, wilayah Kalimantan. Terutama Kalimantan, Kalimantan paling kasihan karena Kalimantan itu ketergantungan sama pasar pemerintahnya besar. Jadi, sudah kena pukul di efisiensi anggaran, tambah lagi karhutla yang pesawat enggak bisa mendarat. Itu sangat-sangat berat untuk Kalimantan," sambung Haryadi.
Ia mengatakan, masyarakat setempat cenderung mengurangi aktivitas di luar rumah akibat gangguan kesehatan yang berkaitan dengan asap karhutla, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Orang lokal pun enggak keluar, karena susah tuh ISPA kan, mau keluar gimana, gitu. Seperti itu kondisinya memang sangat-sangat mengganggu sekali karhutla ini," katanya.
1.813 Penerbangan Terdampak Karhutla
Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat sebanyak 1.813 penerbangan terdampak karhutla selama periode 11 Agustus hingga 12 Oktober 2026.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F Laisa menyampaikan, dampak asap dalam beberapa hari terakhir tidak hanya terjadi di Sumatera dan Kalimantan, tetapi juga meluas ke sejumlah bandara di wilayah timur Indonesia.
Berdasarkan pengawasan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, sebanyak 95 penerbangan terdampak pada periode 10-12 Oktober 2026. Rinciannya, dua penerbangan mengalami keterlambatan dan 93 penerbangan dibatalkan.
Jumlah tersebut menambah catatan penerbangan terdampak yang sebelumnya mencapai 1.673 penerbangan hingga 10 Oktober 2026. Setelah penambahan tersebut dan masuknya laporan susulan maskapai untuk periode sebelumnya, total penerbangan terdampak menjadi 1.813 penerbangan.
"Kami melihat ada pergeseran sebaran dampak dalam beberapa hari terakhir. Untuk itu, pengawasan kami perkuat melalui Kantor Otoritas Bandar Udara di masing-masing wilayah. Setiap keputusan operasional harus tetap mengutamakan faktor keselamatan penerbangan, dengan berpedoman pada kondisi jarak pandang aktual di lapangan," kata Lukman dalam keterangannya, dikutip Rabu (14/10/2026).
Di Kalimantan, dampak asap tercatat di Bandara Iskandar di Pangkalan Bun dan Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Dampak juga terjadi di Bandara Supadio di Pontianak dan Bandara Rahadi Oesman di Ketapang, Kalimantan Barat, serta Bandara Kalimarau di Berau, Kalimantan Timur.
Di Sumatra, dampak terjadi di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatera Selatan. Sementara itu, di Papua, dampak tercatat di Bandara Domine Eduard Osok di Sorong, Papua Barat Daya; Bandara Rendani di Manokwari, Bandara Torea di Fakfak, dan Bandara Utarom di Kaimana, Papua Barat. Dampak juga terjadi di Bandara Douw Aturure di Nabire, Papua Tengah, serta Bandara Wamena di Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Di Maluku, bandara yang terdampak meliputi Bandara Pattimura di Ambon, Bandara Rar Gwamar di Dobo, Kepulauan Aru, dan Bandara Namniwel di Namlea, Kabupaten Buru.
Di Maluku Utara, dampak terjadi di Bandara Sultan Babullah di Ternate, Bandara Leo Wattimena di Pulau Morotai, serta Bandara Oesman Sadik di Labuha, Halmahera Selatan. Dampak serupa juga terjadi di Bandara Tampa Padang, Mamuju, Sulawesi Barat.
Selain akibat karhutla, Kemenhub mencatat empat penerbangan dibatalkan pada periode yang sama karena faktor lain, yakni sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok dan cuaca buruk.
Ihwal itu, Kemenhub terus mengintensifkan pengawasan operasional penerbangan berjadwal dalam negeri yang terdampak karhutla. Pengawasan dilakukan melalui Kantor Otoritas Bandar Udara di masing-masing wilayah dengan mempertimbangkan kondisi jarak pandang aktual.
Lukman menuturkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait informasi cuaca dan jarak pandang, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan pemerintah daerah terkait penanganan karhutla.
Koordinasi operasional turut dilakukan bersama AirNav Indonesia, penyelenggara bandara, dan operator penerbangan untuk memastikan penyesuaian operasional tetap mengutamakan keselamatan.
Adapun pemerintah melakukan penanganan karhutla melalui operasi pemadaman dari udara atau water bombing. Selama periode 20 April hingga 11 Oktober 2026, operasi tersebut telah dilakukan sebanyak 5.006 flight cycle dengan melibatkan 38 pesawat udara sipil asing yang dioperasikan oleh 11 operator.
Baca Juga
Prabowo Perintahkan Penanganan Karhutla di Tanjung Puting Jadi Perhatian Khusus
Operasi pemadaman udara tersebut tersebar di sejumlah wilayah rawan karhutla, antara lain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Barat.
Lukman pun mengimbau masyarakat untuk memaklumi keterlambatan maupun pembatalan penerbangan akibat kondisi asap karhutla.
"Kami mengajak masyarakat untuk memahami bahwa penundaan atau pembatalan penerbangan dilakukan demi keselamatan bersama. Bagi masyarakat yang akan bepergian dengan pesawat, kami imbau untuk memperhatikan perkembangan cuaca dan selalu memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai dan bandar udara sebelum berangkat," tuturnya.
