Okupansi Hotel Melambat 30% hingga Kini , Bagaimana Permintaan Saat Lebaran?
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menyebutkan okupansi atau tingkat keterisian hotel jelang Idulfitri mengalami penurunan sebanyak 30%, dibandingkan dengan tahun lalu.
Hariyadi menjelaskan, angka tersebut berdasarkan data yang diterima dari pimpinan-pimpinan PHRI yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia sampai dengan 20 Maret 2025 atau kurang lebih H-14 menjelang lebaran.
Baca Juga
Efisiensi Anggaran Pemerintah Tekan Pendapatan Industri Hotel 40% Ytd
“Maksudnya apa? Maksudnya kalau tahun lalu pemesanan kamar itu mencapai, let's say, 100 kamar. Nah, tahun ini baru 70 (kamar) gitu,” ucap Hariyadi pada konferensi pers di Jakarta, Sabtu (22/3/2025).
Kendati demikian, Hariyadi belum mengetahui apakah tren perlambatan okupansi hotel ini akan berlanjut hingga mendekati perayaan Idulfitri. Ia mengaku belum bisa mengonfirmasi bagaimana kondisi ke depan, jika dibandingkan dengan tahun lalu.
Apalagi jika melihat keterangan dari asosiasi penerbangan di dalam negeri, kondisi penerbangan diketahui sudah penuh atau terpesan hingga H-5 sebelum lebaran. Oleh karenanya, hal tersebut diprediksi bisa berdampak positif terhadap tingkat keterisian hotel.
“Kalau itu fully booked (pesawat) kemungkinankita (hotel) sama lah (tingkat keterisiannya) dengan tahun lalu kira-kira gitu,” ungkapnya.
Baca Juga
Apabila tingkat keterisian hotel mengalami peningkatan seiring dengan pemesanan tiket, ia mengungkapkan lokasi hotel masih jadi penentunya. Hariyadi mencontohkan, hotel di daerah Solo berpotensi mengalami peningkatan lantaran wilayah tersebut merupakan salah satu destinasi mudik masyarakat.
“Saya ambilkan contoh Jogja, Malang, Solo, yang memang sudah tradisional jadi tempat orang untuk mudik, itu ya mungkin okupansi hotelnya bisa dikit sekitar 80-100% ya, tergantung hotelnya, lokasinya,” papar Hariyadi.

