Bus Listrik Lokal Arjuno Buatan VKTR Dipercaya Layani Mobilitas Tambang hingga 350 Km
Poin Penting
|
MALANG, investortrust.id — Kepercayaan industri pertambangan terhadap kendaraan listrik lokal terus menguat. PT Bagong Dekaka Makmur, penyedia jasa transportasi untuk kebutuhan mobilitas pertambangan, memercayakan dua unit bus listrik Arjuno produksi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) guna mendukung operasional dengan jarak tempuh hingga 350 km.
Dua unit bus listrik berukuran 8 meter tersebut diserahkan VKTR kepada Bagong Dekaka Makmur di Malang, Senin (5/10/2026). Penyerahan ini memperkuat kerja sama kedua perusahaan dalam mendorong penggunaan kendaraan listrik komersial untuk kebutuhan transportasi di sektor pertambangan.
Direktur Utama VKTR, Anindra Ardiansyah Bakrie mengungkapkan, keputusan Bagong Dekaka Makmur menggunakan kembali kendaraan listrik menunjukkan semakin terbukanya industri terhadap solusi elektrifikasi yang dikembangkan perusahaan dalam negeri.
“Keputusan Bagong Dekaka Makmur untuk kembali menggunakan kendaraan listrik menunjukkan bahwa industri lokal memiliki kemampuan untuk menjawab kebutuhan operasional yang semakin spesifik,” kata Ardiansyah dalam keterangan resminya.
Baca Juga
Penjualan Melesat 56%, VKTR Siapkan e-MaaS untuk Percepat Adopsi Kendaraan Listrik
Menurut Ardi Bakrie, penggunaan kendaraan listrik di sektor industri tidak lagi semata-mata berkaitan dengan isu lingkungan. Kendaraan listrik mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi bisnis karena berpotensi meningkatkan efisiensi operasional.
“Bagi VKTR, ini bukan hanya tentang menyerahkan kendaraan, tetapi tentang menghadirkan solusi yang benar-benar dapat bekerja di lapangan dan membantu operator menjalankan bisnis dengan lebih efisien,” ujar dia.
Dia menjelaskan, Arjuno merupakan bus listrik berkapasitas hingga 25 penumpang dengan baterai berkapasitas 210 kilowatt-jam (kWh). Kendaraan tersebut mampu menempuh jarak hingga 350 km dan mendukung pengisian daya arus searah atau direct current (DC) hingga penuh dalam waktu sekitar 90 menit.
Spesifikasi tersebut membuat Arjuni dapat digunakan untuk kebutuhan transportasi pekerja maupun mobilitas internal di kawasan pertambangan yang memiliki rute, jadwal, dan tingkat penggunaan kendaraan yang relatif terukur.
Selain tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung, kata Ardi Bakrie, bus listrik memiliki tingkat kebisingan lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil. Dari sisi bisnis, kendaraan listrik berpotensi menekan biaya operasional melalui penggunaan energi yang lebih efisien serta kebutuhan perawatan yang lebih rendah.
“VKTR juga menjadikan total cost of ownership (TCO) atau total biaya kepemilikan sebagai salah satu pertimbangan dalam melihat kelayakan kendaraan listrik bagi kebutuhan industry,” tutur dia.
Baca Juga
Sementara itu, Direktur Utama PT Bagong Dekaka Makmur, Budi Susilo mengemukakan, pengalaman menggunakan kendaraan listrik membuat perusahaan semakin yakin bahwa teknologi tersebut dapat diterapkan untuk kebutuhan operasional pertambangan.
“Bagi kami, penggunaan kendaraan listrik bukan hanya tentang mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga bagaimana kendaraan tersebut mampu menjawab kebutuhan operasional secara nyata,” ujar Budi.
Sebelumnya, Bagong Dekaka Makmur menggunakan kendaraan listrik Transporter Lokon untuk mendukung aktivitas operasional. Pengalaman tersebut memberikan hasil positif, sekaligus memperkuat keyakinan perusahaan terhadap keandalan kendaraan listrik di lapangan.
“Dalam operasional pertambangan, kendaraan harus mampu mengikuti ritme kerja, memiliki reliability (keandalan) yang baik, dan memberikan efisiensi dalam jangka panjang,” tandas dia.
Budi Susilo menjelaskan, pengalaman menggunakan Lokon bersama VKTR semakin memperkuat pandangan perusahaan bahwa kendaraan listrik dapat menjadi alternatif yang kompetitif untuk mendukung kebutuhan transportasi di sektor pertambangan.
“Kepercayaan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa industri kendaraan listrik dalam negeri mulai mendapatkan tempat di sektor dengan tingkat penggunaan kendaraan yang tinggi,” tegas dia.
Ardi Bakrie mengemukakan, Arjuno dikembangkan VKTR melalui kolaborasi dengan Laksana Karoseri, dengan proses perakitan kendaraan dilakukan di Indonesia. Selain berkaitan dengan produksi kendaraan, kolaborasi diarahkan untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik komersial nasional.
“Ekosistem tersebut mencakup manufaktur, karoseri, rantai pasok, tenaga kerja, layanan purnajual, serta dukungan teknis di dalam negeri,” ucap Ardi.
Bagi VKTR, menurut Ardi Bakrie, meningkatnya penggunaan kendaraan listrik di sektor pertambangan menunjukkan bahwa agenda transisi energi dapat berjalan seiring dengan kepentingan bisnis. Ketika kendaraan mampu memenuhi tuntutan operasional sekaligus menciptakan efisiensi, elektrifikasi menjadi pilihan yang semakin relevan bagi pelaku industri.
Ardi mengatakan, setiap sektor memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, penerapan elektrifikasi harus disesuaikan dengan jenis kendaraan, kebutuhan pengisian daya, pola penggunaan, serta biaya sepanjang masa pemakaian.
Baca Juga
Jadi Andalan VKTR di Pasar Mobilitas Pertambangan, Arjuno Bisa Melaju hingga 350 Km
“Setiap sektor memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga tidak ada satu solusi yang berlaku untuk semua. Yang penting adalah bagaimana kita bersama-sama mulai melihat peluang elektrifikasi dari kebutuhan bisnis yang nyata,” papar dia.
Dia menambahkan, VKTR membuka peluang kolaborasi dengan lebih banyak operator dan pelaku industri untuk memperluas penggunaan kendaraan listrik komersial di Indonesia.
“Kami terbuka untuk berkolaborasi dengan lebih banyak operator dan pelaku industri untuk menghadirkan kendaraan listrik komersial yang tidak hanya lebih bersih, tetapi juga memberikan value (nilai) bagi bisnis,” tutur Ardi.
VKTR merupakan perusahaan yang bergerak di bidang elektrifikasi kendaraan komersial di Indonesia. Perseroan mencatatkan saham melalui penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 19 Juni 2023 dan menjadi salah satu emiten yang berfokus pada kendaraan listrik komersial di Indonesia.
