Rupiah Melemah ke Rp 17.808, Pasar Pantau Sinyal The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mengalami pelemahan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (21/9/2026). Rupiah melemah sebesar 0,28% menjadi Rp 17.808 per dolar AS.
Selain rupiah, pelemahan nilai tukar juga terjadi pada dolar Hong Kong sebesar 0,01% dan peso Filipina sebesar 0,05%. Yuan China terpantau masih bergerak stabil.
Baca Juga
Rupiah Bergerak Menguat Terhadap Dolar AS, Sentuh Rp 17.607 per US$
Sementara itu, sejumlah mata uang lain di kawasan Asia bergerak menguat terhadap dolar AS. Rupee India menguat 0,06%, yen Jepang menguat 0,03%, won Korea Selatan menguat 0,29%, dan ringgit Malaysia menguat 0,08%, serta dolar Singapura menguat 0,04% dan baht Tailan menguat 0,1%.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong memproyeksikan rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS. Ini terjadi di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS oleh prospek kenaikan suku bunga the Fed. “Yang memberikan tekanan pada BI menjelang RDG BI Rabu ini,” kata Lukman.
Diberitakan sebelumnya, pergerakan Wall Street terjadi ketika yield US Treasury meningkat setelah the Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu.
Baca Juga
Bank sentral AS juga memberikan sinyal bahwa setidaknya masih terdapat kemungkinan kenaikan suku bunga lainnya pada tahun ini. Sebelumnya pada pekan ini, yield US Treasury 10 tahun bahkan sempat menembus level yang menjadi tertinggi sejak Juli 2007.
Tekanan terhadap pasar saham juga datang dari harga minyak yang tetap tinggi. Meskipun harga minyak mentah AS relatif tidak berubah sepanjang pekan, harga masih bertahan di atas US$ 100 per barel.
