Ekspansi ke Pasar Global Makin Ketat, Industri Mamin RI Hadapi Tantangan EUDR hingga CBAM
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Industri makanan dan minuman (mamin) nasional menghadapi sejumlah tantangan untuk memperluas penetrasi ke pasar global. Selain ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mengerek harga energi dan mengganggu rantai pasok, industri mamin juga dihadapkan pada pengetatan standar perdagangan internasional.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, perkembangan industri mamin nasional saat ini berlangsung di tengah perubahan perdagangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut pelaku industri untuk meningkatkan standar produk sekaligus menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar internasional.
Ia menjelaskan, salah satu tantangan utama berasal dari meningkatnya regulasi terkait lingkungan dan deforestasi. Salah satunya adalah implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mewajibkan pelaku usaha memenuhi ketentuan uji tuntas (due diligence) serta menyediakan informasi geolokasi lahan yang terbebas dari deforestasi untuk sejumlah komoditas, seperti sawit, kakao, kopi, dan karet.
Baca Juga
Kemenperin Pasang Target Ekspor Mamin Tembus US$ 83,08 Miliar di 2029, Ini Strateginya
Selain itu, terdapat juga aturan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa yang turut mendorong industri untuk semakin memperhatikan aspek emisi karbon dalam rantai produksinya.
“Ketidakpastian geopolitik (seperti konflik AS-Israel vs Iran dan Rusia vs Ukraina) telah memicu kenaikan harga energi, inflasi, dan disrupsi rantai pasok. Di sisi lain, industri mamin dihadapkan pada era baru restriksi dan pengetatan standar perdagangan internasional,” ucapnya saat membuka Pameran Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 di Jakarta International Expo, Rabu (16/9/2026).
Selain itu, tantangan berikutnya datang dari semakin ketatnya standar keamanan pangan di negara tujuan ekspor. Faisol Riza menyoroti pengetatan ambang batas residu pestisida atau Maximum Residue Limits (MRL) serta residu kimia di sejumlah pasar utama seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang.
Kondisi tersebut membuat pemenuhan standar keamanan dan mutu pangan menjadi semakin penting bagi industri mamin Indonesia yang ingin memperluas pasar ekspornya. Selain itu, di sisi konsumen, industri juga menghadapi perubahan preferensi.
Baca Juga
Banyak Hadapi Tantangan Global, Industri Mamin Tetap Optimistis Tumbuh 7%
Terdapat juga tekanan biaya hidup (cost of living) membuat konsumen global semakin mempertimbangkan nilai atau value dari produk yang dibeli. Pada saat yang sama, permintaan terhadap produk yang dinilai lebih ramah lingkungan, berkelanjutan, dan berbasis nabati (plant based) turut meningkat.
Faisol menilai perubahan tersebut perlu direspons industri dengan memperkuat standar pangan. Menurut dia, standar pangan tidak lagi sekadar berkaitan dengan kepatuhan administratif, tetapi menjadi bagian penting dari daya saing industri di pasar global.
“Industri harus gesit merespons perubahan preferensi ini. Syarat mutlak akses pasar global, pemenuhan standar internasional merupakan tiket utama agar produk mamin dan bahan baku asal Indonesia dapat diterima dan bersaing di pasar mancanegara tanpa hambatan teknis," ungkap Faisol Riza.
