Rupiah Kian Melemah, Pengamat Sebut Industri Mamin hingga Farmasi Makin Tertekan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin menekan sektor industri nasional, terutama industri yang bergantung tinggi pada bahan baku impor.
Menurut Faisal, tekanan biaya produksi saat ini terjadi akibat kombinasi kenaikan harga bahan baku global, gangguan rantai pasok, serta melonjaknya biaya logistik dan asuransi internasional yang diperparah oleh depresiasi rupiah.
“Pelemahan nilai tukar ini menambah tingginya biaya produksi. Jadi biaya produksi mengalami peningkatan karena harga bahan baku di negara asal juga naik akibat disrupsi rantai pasok,” ujar Faisal kepada Investortrust.id, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, beban biaya industri meningkat dari berbagai sisi secara bersamaan. Selain inflasi bahan baku di negara pemasok, Faisal menyebutkan, ongkos distribusi dan logistik internasional juga melonjak signifikan.
“Logistik jauh lebih mahal, asuransinya jauh lebih mahal, ditambah lagi faktor nilai tukar. Jadi artinya ada peningkatan beban biaya produksi yang lebih besar,” katanya.
Baca Juga
Rupiah dan IHSG Anjlok, Prabowo Kumpulkan Jajaran Menteri Ekonomi hingga Gubernur BI
Faisal menambahkan, dampak terbesar dirasakan oleh sektor-sektor industri yang memiliki ketergantungan impor tinggi, seperti industri kimia, farmasi, serta sejumlah industri makanan dan minuman.
“Yang paling besar dialami oleh industri-industri yang memiliki ketergantungan impor paling besar seperti kimia, farmasi, lalu beberapa industri makanan minuman,” beber Faisal.
Untuk memitigasi dampak pelemahan rupiah, Faisal mendorong pelaku industri mulai mencari alternatif pasokan bahan baku dari dalam negeri serta melakukan diversifikasi rantai pasok agar tidak terlalu bergantung pada impor.
Di sisi lain, Faisal menilai pemerintah perlu menjaga stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal guna mempertahankan kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.
“Pelemahan nilai tukar bukan hanya faktor global, tapi juga faktor domestik. Stabilitas makroekonomi termasuk masalah fiskal harus dijaga pemerintah,” imbuh Faisal.

