Harga Emas Jatuh ke Level Terendah 2 Minggu, Ini Pemicunya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas turun lebih 2% pada Selasa (1/9/2026) ke level terendah dalam dua minggu akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan penguatan dolar AS, sementara penembusan level teknikal penting memicu tekanan jual tambahan di pasar.
Harga emas turun 2,7% menjadi US$ 4.329,47 per ons. Pada awal perdagangan, harga sempat menyentuh US$ 4.362,89 per ons, level terendah sejak 19 Agustus. Penurunan tersebut membawa emas batangan semakin jauh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari yang berada di sekitar US$ 4.528. Level tersebut ditembus pada 28 Agustus dan menjadi sinyal teknikal penting bagi pelaku pasar. Sementara Kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) juga melemah 2,3% menjadi US$ 4.377,40 per ons.
Baca Juga
“Kita melihat adanya tekanan jual teknis, imbal hasil obligasi global berada pada level tertinggi yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Jadi, semua itu memberikan tekanan pada pasar emas,” kata Analis pasar American Gold Exchange Jim Wyckoff dilansir CNBC.
Menurut dia, penurunan harga emas di bawah rata-rata pergerakan 200 hari menjadi sinyal teknikal yang turut memperkuat tekanan jual.
Imbal hasil obligasi Pemerintah AS naik ke level tertinggi sejak Januari 2025 pada Selasa. Pergerakan tersebut terjadi ketika meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong aksi jual di pasar obligasi global.
Kenaikan imbal hasil obligasi menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, seperti instrumen berbasis bunga. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, biaya peluang untuk memegang emas ikut naik.
Penguatan dolar AS juga menambah tekanan terhadap harga emas. Emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain ketika nilai dolar menguat.
Pergerakan tersebut terjadi setelah harga emas sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada pekan sebelumnya. Namun, harga kemudian merosot lebih dari 3% pada Jumat pekan lalu setelah Ketua Federal Reserve AS Kevin Warsh memperingatkan masih ada “pekerjaan yang harus dilakukan” jika inflasi belum kembali ke target 2%.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Turun Rp 6.000, Pasar Antisipasi Kenaikan Bunga The Fed
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada sejumlah data ekonomi AS yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve. Laporan ketenagakerjaan ADP dijadwalkan terbit pada Rabu (2/9/2026). Data non-farm payrolls atau penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian akan menyusul pada Jumat (4/9/2026).
“Tren pergerakan paling mudah saat ini kemungkinan besar adalah pergerakan mendatar atau mendatar hingga menurun di pasar emas dalam jangka pendek. Hal yang sama berlaku untuk perak,” kata Wyckoff.
