Harga Emas Turun ke Level Terendah 2 Minggu, Ini Pemicunya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas turun pada Senin (31/8/2026) mendekati level terendah dalam dua minggu setelah komentar hawkish Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 4.431,39 per ons atau sekitar Rp 78,7 juta per ons dengan asumsi kurs US$ 1 setara Rp 17.760. Penurunan terjadi setelah harga emas sempat menyentuh level terendah sejak pertengahan Agustus. Meski terkoreksi, emas masih mencatat kenaikan sekitar 9,6% sepanjang Agustus dan berada di jalur membukukan kinerja bulanan terkuat sejak Januari. Kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Desember turun 1% menjadi US$ 4.482,60 per ons atau sekitar Rp 79,6 juta per ons.
Tekanan terhadap emas terutama datang dari perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Komentar Warsh mendorong investor memperkirakan bank sentral AS masih membuka ruang untuk menaikkan suku bunga apabila inflasi belum bergerak mendekati target 2%.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 18.000, 'Buyback' Jadi Rp 2,61 Juta
Ahli strategi pasar senior StoneX, Daniel Pavilonis, mengatakan kenaikan suku bunga dan ekspektasi inflasi menjadi faktor utama yang menekan emas. Kondisi tersebut diperburuk oleh kenaikan harga energi dan penurunan persediaan minyak.
“Alasan terbesar saat ini adalah suku bunga yang lebih tinggi, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, yang didorong oleh sektor energi dan penurunan persediaan minyak,” kata Pavilonis dilansir CNBC.
Dia menambahkan kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS dan penguatan dolar turut membuat posisi emas semakin rentan. “Kemudian imbal hasil obligasi AS terus menguat, dolar terus menguat. Saya pikir itu menempatkan emas dalam posisi yang genting,” ujarnya.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September meningkat tajam setelah pernyataan Warsh. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar menaikkan probabilitas kenaikan suku bunga menjadi sekitar 64%, dari sekitar 36% sebelum komentar tersebut.
Warsh sebelumnya memberikan sinyal bahwa pembuat kebijakan perlu mengambil langkah lebih lanjut apabila belum memperoleh keyakinan bahwa inflasi akan kembali menuju target 2% Federal Reserve. Pernyataan tersebut memicu kenaikan imbal hasil surat utang AS dan memperkuat dolar, dua faktor yang cenderung mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga emas juga telah mengalami tekanan besar sejak akhir pekan. Pada Jumat (28/8/2026), emas turun lebih dari 3%, menjadi penurunan harian terdalam sejak 10 Juni. Pergerakan tersebut terjadi setelah pasar mencerna pernyataan hawkish Warsh dalam simposium Jackson Hole.
Data ketenagakerjaan ADP dan laporan penggajian non-pertanian Agustus menjadi perhatian investor. Data tersebut dapat memengaruhi penilaian pasar terhadap kekuatan ekonomi AS sekaligus menentukan ruang bagi The Fed untuk mengubah tingkat suku bunga.
Minyak Naik, Inflasi Kembali Jadi Perhatian
Di pasar energi, harga minyak mentah naik lebih dari 3% pada Senin setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sebuah pulau Iran di Selat Hormuz dan Iran menyatakan telah melakukan serangan balasan.
Kenaikan harga minyak memperbesar kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi. Harga Brent bahkan ditutup di US$ 90,49 per barel, sedangkan West Texas Intermediate berada di US$ 85,76 per barel setelah ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat.
Baca Juga
Dolar AS sempat bertahan di dekat level tertinggi dalam sekitar dua minggu setelah meningkatnya taruhan kenaikan suku bunga. Namun, pelemahan tipis dolar pada Senin membantu membatasi penurunan harga emas. Reuters melaporkan indeks dolar turun 0,24% pada perdagangan tersebut.
Pergerakan negatif juga terjadi pada sejumlah logam mulia lainnya. Harga perak turun 0,4% menjadi US$ 66,1351 per ons. Meski terkoreksi, harga perak masih mencatat kenaikan sekitar 15% sepanjang Agustus setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak pertengahan Juni.
Harga platinum turun 1,8% menjadi US$ 1.787,63 per ons dan paladium merosot hampir 4% menjadi US$ 1.365,09 per ons.
