2 Sumur Baru Pertamina Sanga-Sanga Produksi Gas di Atas Target, Capai 5,3 MMSCFD
Poin Penting
|
KUTAI KARTANEGARA, Investortrust.id - PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS), anak usaha PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) di Zona 9, mencatat produksi gas dan kondensat dari dua sumur pengembangan baru di Struktur Semberah, Wilayah Kerja Sanga-Sanga, Kalimantan Timur. Uji produksi Sumur SEM-206 dan SEM-207 menghasilkan volume di atas target awal dan menambah potensi produksi dari lapangan migas yang telah mature.
Sumur SEM-206 mencatat produksi awal 5,3 juta standar kaki kubik gas per hari atau million standard cubic feet per day dan 706 barel kondensat per hari. Capaian tersebut sekitar dua kali lebih tinggi dari target awal. Sementara itu, Sumur SEM-207 menghasilkan gas 3,11 MMSCFD dan kondensat 103 barel per hari. Produksi gas dan kondensat dari sumur tersebut tercatat sekitar empat kali lebih tinggi dibandingkan target awal.
Baca Juga
Pertamina Dorong Indonesia Jadi Hub CCS Regional, Asri Basin Disiapkan
Kedua sumur mengalir secara natural melalui mekanisme open flow, yakni aliran fluida dari reservoir menuju permukaan tanpa bantuan pengangkatan buatan pada tahap awal produksi. SEM-206 ditopang tiga lapisan reservoir dengan kondisi tekanan yang baik, sedangkan SEM-207 mengandalkan satu lapisan reservoir yang juga memiliki tekanan mendukung aliran produksi.
General Manager Zona 9 PHSS Dadang Soewargono mengatakan keberhasilan dua sumur tersebut memperkuat strategi perusahaan dalam mengembangkan lapangan migas yang telah mature.
“Kami terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi dengan melakukan pengeboran sumur-sumur baru guna menambah cadangan, meningkatkan recovery, menahan laju penurunan produksi alamiah, dan mempertahankan tingkat produksi migas lapangan-lapangan yang sudah mature di wilayah Kalimantan,” ujar Dadang dikutip Jumat (28/8/2026).
Menurut Dadang, pengembangan lapangan mature membutuhkan pendekatan berbeda karena setiap sumur memiliki karakteristik reservoir dan tantangan teknis masing-masing. PHSS melakukan evaluasi teknis dan pengelolaan risiko sejak tahap perencanaan hingga pengeboran dan uji produksi.
“Pada pengeboran sumur SEM-206, kami menerapkan strategi pengeboran, antara lain melalui penggunaan peralatan komplesi dan kepala sumur dengan pressure rating tinggi serta penerapan teknologi Casing While Drilling CWD untuk mendukung stabilitas lubang sumur dan efektivitas operasi. Sejalan strategi tersebut, sumur SEM-206 dibor lebih ke arah timur dari struktur eksisting,” jelas Dadang.
Perbedaan karakteristik reservoir membuat waktu penyelesaian kedua sumur tidak sama. Pengeboran hingga uji produksi SEM-206 membutuhkan waktu 45 hari, sedangkan SEM-207 dapat diselesaikan dalam 13 hari.
Dari aspek keselamatan kerja, kedua proyek tersebut juga mencatatkan kinerja tanpa kecelakaan kerja. SEM-206 mencatat 75.600 jam kerja selamat, sementara SEM-207 mencapai 27.216 jam kerja selamat hingga tahap uji produksi.
Baca Juga
Produksi Naik, Biaya Tetap Efisien
Selain produksi di atas target, PHSS mencatat realisasi biaya pengeboran kedua sumur lebih rendah dibandingkan anggaran yang telah ditetapkan. Efisiensi tersebut menjadi bagian dari strategi pengembangan lapangan mature yang menghadapi tantangan teknis dan operasional lebih kompleks.
Dadang mengatakan hasil pengeboran tersebut menunjukkan pentingnya perencanaan teknis, penggunaan teknologi, pengendalian biaya, serta pelaksanaan operasi yang disiplin dalam mengembangkan lapangan yang telah berproduksi dalam waktu panjang.
“Keberhasilan pengeboran, efisiensi biaya, dan kinerja keselamatan yang unggul menunjukkan bahwa tantangan di lapangan mature dapat dijawab melalui perencanaan yang matang, inovasi, teknologi, dan eksekusi yang disiplin. Kami terus mencari cara untuk mengembangkan potensi yang ada secara optimal dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan operasi,” pungkasnya.
