Harga Emas Naik 4,4%, Dolar AS dan Yield Treasury Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas melonjak pada Rabu (5/8/2026) setelah dolar AS melemah dan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat turun, sementara pasar mencermati perkembangan konflik Iran-AS dan data tenaga kerja untuk membaca arah inflasi serta kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot naik 4,4% menjadi US$ 4.253,36 per ons dan kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember menetap naik menjadi US$ 4.305,20 per ons. Kenaikan tersebut membawa emas ke level tertinggi dalam hampir 7 minggu dan menjadi penguatan harian terbesar sejak Februari 2026.
“Dua hari dengan imbal hasil lebih rendah dan seminggu dengan dolar yang lebih lemah membersihkan jalan di depan emas dan perak,” kata pedagang logam independen Tai Wong dilandir CNBC.
Baca Juga
MIND ID Distribusikan Nilai Ekonomi Rp 180,3 Triliun, Pemasok Lokal Jadi Penopang
Pelemahan dolar AS membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,6%, sehingga mengurangi biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga atau imbal hasil.
Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar mendapatkan sinyal baru mengenai kondisi ekonomi Amerika Serikat. Pertumbuhan pekerja swasta di negara tersebut hanya bertambah 44.000 pada Juli, jauh di bawah ekspektasi ekonom sebesar 70.000.
Taruhan Suku Bunga The Fed
Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid mengatakan kebijakan moneter yang lebih ketat masih diperlukan untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%.
Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari juga mengatakan dalam wawancara dengan CNBC bahwa sudah waktunya bagi bank sentral AS mulai menaikkan suku bunga secara bertahap. Kashkari sebelumnya menjadi salah satu pejabat yang memilih kenaikan suku bunga ketika The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5%-3,75% dalam pertemuan terakhir.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan di internal bank sentral AS mengenai respons yang diperlukan terhadap inflasi yang masih berada di atas target 2%.
Federal Reserve juga menghadapi tekanan dari kondisi harga yang masih tinggi. Gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan dirinya siap mendukung kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak mulai mereda. Inflasi AS tercatat 3,7% secara tahunan, masih berada di atas target 2% bank sentral.
Namun, data tenaga kerja yang lebih lemah membuat pasar mengurangi sebagian taruhan terhadap kenaikan suku bunga pada September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September berada di sekitar 57%.
Pergerakan emas juga berlangsung ketika investor memantau perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahannya telah melakukan diskusi yang sangat baik dengan Iran, memunculkan harapan terhadap kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Baca Juga
Siapa Pemilik Emas 74 Kg? Kubu Febrie Adriansyah: Beban Pembuktian Ada di Penyidik
Perkembangan tersebut turut memengaruhi pasar energi. Harga minyak mentah turun tajam setelah muncul optimisme mengenai kemungkinan penyelesaian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan minyak dan gas dunia.
Penurunan harga energi berpotensi meredakan tekanan inflasi yang sebelumnya muncul dari lonjakan harga minyak. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting bagi pasar karena inflasi energi dapat memengaruhi keputusan The Fed dalam menentukan tingkat suku bunga.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada serangkaian data ekonomi AS, termasuk laporan tenaga kerja yang lebih luas, untuk melihat apakah perlambatan pasar tenaga kerja akan berlanjut dan bagaimana pengaruhnya terhadap keputusan The Fed.
Harga perak juga mengikuti penguatan emas dengan kenaikan sekitar 4,4% menjadi US$ 62,11 per ons pada perdagangan Rabu.
