Inggris Siapkan Pembiayaan Rp 96,128 Triliun untuk Infrastruktur Indonesia
Inggris Bidik Penguatan Kerja Sama Perkeretaapian dan Infrastruktur dengan Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Komisaris Perdagangan Inggris untuk Asia Pasifik, Martin Kent melakukan kunjungan ke Indonesia untuk memperkuat kemitraan kedua negara di bidang infrastruktur, energi bersih, dan investasi. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penguatan Kemitraan Strategis dan Kemitraan Pertumbuhan Ekonomi Inggris-Indonesia.
Inggris memiliki kapasitas pembiayaan hingga GBP 4 miliar atau setara Rp 96,128 triliun (asumsi kurs Rp 24.032 per GBP) untuk Indonesia.
Selama berada di Jakarta, Martin Kent memimpin sejumlah pertemuan dengan pejabat pemerintah, investor, serta perusahaan-perusahaan Inggris yang bergerak di sektor perkeretaapian, pengembangan jaringan listrik, dan infrastruktur berkelanjutan.
Salah satu agenda utama dalam kunjungan tersebut penyelenggaraan UK-Indonesia Rail Partnership Forum 2026 yang menghadirkan 15 perusahaan Inggris dari berbagai subsektor perkeretaapian, mulai rekayasa teknik, konsultan, arsitektur, operasional, penyedia sarana dan sistem perkeretaapian, hingga pembiayaan.
Menurut Kent, forum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan Inggris dan Indonesia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, konektivitas, dan pembangunan infrastruktur.
"Kemitraan strategis antara Inggris dan Indonesia, serta Kemitraan Pertumbuhan Ekonomi yang telah disepakati, memberikan momentum baru bagi hubungan kedua negara. Infrastruktur menjadi salah satu bidang utama untuk memperdalam kerja sama melalui UK-Indonesia Infrastructure Partnership," katanya di Hotel Mandarin, Jakarta Pusat, Rabu (29/7/2026).
Dia menilai, Indonesia memiliki agenda besar untuk meningkatkan konektivitas, mendukung pertumbuhan ekonomi, mengurangi emisi, serta menciptakan kota yang lebih layak huni melalui pengembangan transportasi rel. Pengembangan lanjutan MRT Jakarta, LRT, serta proyek perkeretaapian di Bandung dan Surabaya menjadi bagian dari visi tersebut.
Dikatakan Kent, perusahaan-perusahaan Inggris telah berkontribusi dalam pembangunan fase pertama MRT Jakarta serta mendukung kesiapan operasional LRT Jabodebek.
"Kami bangga dapat mendampingi Indonesia dalam perjalanan ini. Perusahaan-perusahaan Inggris telah berkontribusi pada proyek MRT pertama di Jakarta dan juga berperan penting dalam kesiapan operasional sistem kereta perkotaan terbaru, yaitu LRT Jabodebek," jelasnya.
Dalam forum tersebut, delegasi Inggris terdiri atas perusahaan konsultan transportasi, seperti Arup, Mott MacDonald, Turner & Townsend, PwC, KPMG, dan Connected Places Catapult, perusahaan arsitektur Foster + Partners, BDP, Broadway Malyan, dan Scott Brownrigg, produsen sarana perkeretaapian CAF dan Hitachi Rail, penyedia sistem Colas Rail dan G-Manova, serta UK Export Finance (UKEF).
Kent mengungkapkan, UKEF kini memiliki kapasitas pembiayaan hingga GBP 4 miliar atau setara Rp 96,128 triliun (asumsi kurs Rp 24.032 per GBP) untuk Indonesia.
Baca Juga
"Saat ini UKEF memiliki kapasitas pembiayaan hingga GBP 4 miliar bagi Indonesia dan siap menyediakan solusi pembiayaan yang kompetitif untuk mendukung ambisi pembangunan Indonesia, seiring dengan keahlian yang dimiliki perusahaan-perusahaan Inggris," ungkapnya.
Selain sektor perkeretaapian, Martin Kent juga memimpin delegasi "Team UK" untuk mempresentasikan kapabilitas Inggris di bidang modernisasi jaringan listrik, sistem transmisi, dan teknologi High-Voltage Direct Current (HVDC) melalui pertemuan dengan PT PLN (Persero) dan para pemangku kepentingan pemerintah.
Kerja sama investasi juga menjadi fokus pembahasan, termasuk proyek infrastruktur dan energi bersih bersama Danantara serta pelaku usaha Indonesia. Nilai perdagangan bilateral Inggris dan Indonesia pada 2025 tercatat mencapai GBP 4 miliar atau meningkat 11% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Allan Tandiono mengatakan, Indonesia masih mengandalkan pendanaan pemerintah dalam pembangunan perkeretaapian, selain dukungan pembiayaan dari Jepang, China, dan Jerman.
"Ke depan, kami berharap Inggris tidak hanya berbisnis dengan Indonesia, tetapi juga menyediakan skema pembiayaan sehingga pembangunan perkeretaapian dapat dipercepat," kata Allan.
Dia menjelaskan, Indonesia saat ini mengoperasikan sekitar 6.927 kilometer (km) jalur kereta api yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, serta jalur logistik di Papua. Selain itu, terdapat lebih dari 2.200 km jalur nonaktif yang dinilai memiliki potensi untuk direaktivasi dan dikembangkan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penumpang kereta api sepanjang Januari—Desember 2025 meningkat 8,88% menjadi 549 juta penumpang dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut mendorong Direktorat Jenderal Perkeretaapian untuk terus meningkatkan keandalan sistem melalui perluasan jaringan, rehabilitasi jalur, modernisasi, serta peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang.
Allan menjelaskan, Pemerintah Indonesia telah menetapkan 10 kawasan metropolitan sebagai prioritas pengembangan perkeretaapian perkotaan, yakni Jabodetabek, Bandung Raya, Kedungsepur, Yogyakarta-Solo, "Gerbangkertosusila" di Jawa Timur, Bali, Ibu Kota Nusantara (IKN), Medan, Palembang, hingga Makassar.
Baca Juga
Ditarget Rampung Juni 2027, Progres 'Extended Concourse' MRT Bundaran HI Capai 22%
Menurutnya, proyek yang tengah berjalan, meliputi MRT Jakarta Fase 2, LRT Jakarta Fase 1B, serta Surabaya Regional Railway Line Fase 1. Selain itu, pemerintah juga mendorong elektrifikasi jalur kereta api, pengembangan MRT dan LRT, serta peningkatan kapasitas jaringan.
"Kami meyakini kemitraan yang kuat antara pemerintah, industri, lembaga pembiayaan, dan mitra internasional merupakan kunci untuk mewujudkan sistem perkeretaapian Indonesia yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan," tutur Allan.

