Harga Emas Melemah 2% karena Lonjakan Minyak dan Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas turun lebih 2% pada Kamis (23/7/2026) setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam dua pekan. Lonjakan harga minyak akibat memanasnya konflik di Timur Tengah mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi, sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Harga emas spot turun 2,1% menjadi US$ 4.041,59 per ons. Sebelumnya, logam mulia itu sempat menyentuh level tertinggi sejak 7 Juli. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Agustus merosot 2,6% menjadi US$ 4.043,50 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Melemah Rp 9.000 Seiring Emas Dunia dan Ekspektasi Suku Bunga
Pelemahan emas terjadi seiring penguatan dolar AS sebesar 0,3%. Kenaikan nilai tukar dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Analis pasar di American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan kenaikan harga minyak memicu lonjakan imbal hasil obligasi karena pasar memperkirakan bank sentral akan kesulitan menurunkan suku bunga ketika tekanan inflasi kembali meningkat.
"Kenaikan harga minyak mentah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dengan anggapan bahwa bank sentral tidak akan mampu menurunkan suku bunga mereka karena inflasi yang bermasalah, dan kenaikan imbal hasil obligasi adalah musuh bagi para pelaku pasar emas dan perak karena emas dan perak tidak memberikan imbal hasil," kata Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange dilansir CNBC.
Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei. Kenaikan tersebut terjadi setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi. Peristiwa itu memperbesar kekhawatiran pasar bahwa gangguan terhadap pasokan energi global dapat meluas melampaui kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.
Meningkatnya harga energi memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Dalam kondisi seperti itu, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengendalikan kenaikan harga. Kebijakan tersebut biasanya menekan harga emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Pasar Menunggu Keputusan The Fed
Fokus investor kini beralih ke pertemuan kebijakan Federal Reserve yang akan berlangsung selama dua hari pada pekan depan. Pelaku pasar tidak hanya menunggu keputusan mengenai suku bunga acuan, tetapi juga mencermati pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 80%, meningkat dari 68% sehari sebelumnya. Perubahan ekspektasi tersebut menunjukkan pasar semakin yakin bahwa bank sentral Amerika Serikat masih akan mempertahankan sikap ketat untuk meredam inflasi.
Wyckoff menilai pasar secara umum tidak mengharapkan perubahan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Namun, arah komunikasi bank sentral akan menjadi faktor yang menentukan pergerakan pasar keuangan.
Baca Juga
Harga Emas Melonjak 1,7%, Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Angkat Pasar
"Pasar memperkirakan tidak akan ada perubahan suku bunga minggu depan, mungkin retorika akan cenderung lebih hawkish. Tetapi jika The Fed secara mengejutkan cenderung lebih dovish atau lebih hawkish, pasar akan bereaksi," ujar Wyckoff.
Selain emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot turun 4,3% menjadi US$ 57,15 per ons. Platinum melemah 3,1% menjadi US$ 1.593,17 per ons, sedangkan paladium turun 2,8% menjadi US$ 1.255 per ons. Pelemahan tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor menjelang keputusan Federal Reserve dan masih tingginya ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
