Harga Emas Melonjak 1,7%, Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Angkat Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia menguat lebih 1% pada Selasa (21/7/2026) setelah harapan tercapainya terobosan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkatkan optimisme pasar. Prospek gencatan senjata dapat menurunkan harga energi serta mengurangi ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve (The Fed) sehingga menopang permintaan logam mulia.
Harga emas spot naik 1,7% menjadi US$ 4.071,32 per ons dan kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus meningkat 1,5% menjadi US$ 4.076,40 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Melemah Rp 9.000 Seiring Emas Dunia dan Ekspektasi Suku Bunga
"Harga komoditas secara keseluruhan lebih tinggi karena ekspektasi bahwa gencatan senjata di Timur Tengah mungkin akan segera terwujud," kata analis Marex Edward Meir dilansir CNBC.
Menurut Meir, emas juga memperoleh dukungan dari aksi beli teknikal setelah berhasil menembus tren penurunan jangka pendek yang telah berlangsung sejak 6 Juli. Harga emas kemungkinan masih bergerak dalam kisaran yang relatif terbatas dalam waktu dekat.
Harapan pasar semakin menguat setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Senin (20/7/2026) bahwa Teheran telah menerima proposal dari para mediator mengenai gencatan senjata selama 10 hari. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menyelamatkan kesepakatan sementara yang sedang dibahas.
Fokus Beralih ke Kebijakan The Fed
Sebelumnya, lonjakan harga minyak akibat gangguan pasokan dari kawasan Teluk sempat menekan harga emas. Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi sehingga memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dalam jangka panjang. Namun, ketika suku bunga meningkat, biaya peluang untuk memegang emas ikut bertambah karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Kini perhatian investor beralih ke pertemuan kebijakan The Fed yang berlangsung selama dua hari pada pekan depan. Pasar menunggu keputusan suku bunga serta pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat pada sisa tahun ini.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan terdapat peluang sekitar 64% bahwa bank sentral Amerika Serikat akan menaikkan suku bunga pada September.
Baca Juga
Harga Emas Turun Tipis, Pelaku Pasar Pantau Selat Hormuz dan Kebijakan The Fed
Commerzbank menilai level US$ 4.000 per ons masih menjadi batas psikologis yang kuat bagi pasar emas. Meski demikian, bank tersebut memperingatkan bahwa kekhawatiran terhadap arah suku bunga di Amerika Serikat berpotensi membatasi ruang kenaikan harga emas dalam jangka pendek.
"Angka US$ 4.000 yang secara psikologis signifikan tampaknya tetap bertahan di pasar emas. Namun, kekhawatiran tentang suku bunga di AS kemungkinan akan memperlambat pemulihan yang lebih kuat," tulis Commerzbank dalam catatannya.
