Menko Perekonomian Ajak Perusahaan China Investasi Proyek PLTS 100 GW
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto mengajak perusahaan China berinvestasi dalam pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) di Indonesia.
Ajakan tersebut disampaikan Airlangga saat menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan China, Wang Wentao di Shanghai, China, Jumat (17/7/2026) malam. Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas penguatan kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, transisi energi, hingga kerja sama regional.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW untuk mendukung transisi energi dan hilirisasi industri. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan kapasitas tersebut dapat tercapai pada 2029.
"Indonesia mengapresiasi keterlibatan investasi China dalam pembangunan PLTS Terapung Cirata. Proyek tersebut menunjukkan besarnya potensi kerja sama Indonesia-China dalam mendukung transisi energi, pengembangan energi bersih, dan pencapaian target penurunan emisi," kata Airlangga dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (18/7/2026).
Baca Juga
Menko Airlangga: Sejumlah Perusahaan China di Luar KEK, Minta Kesetaraan Fasilitas
Menurut Airlangga, industri panel surya yang telah beroperasi di Indonesia masih dapat diperkuat dan dikembangkan lebih lanjut. Penguatan tersebut perlu diarahkan untuk membangun rantai pasok industri tenaga surya yang lebih lengkap dan terintegrasi di dalam negeri.
Dia menjelaskan, selain sektor energi, China selama ini menjadi mitra dagang terbesar Indonesia. Pada 2025, nilai perdagangan kedua negara mencapai US$154,6 miliar, dengan tren pertumbuhan rata-rata 7,24% selama periode 2021-2025.
China, kata Menko Perekonomian, juga menjadi salah satu dari tiga sumber penanaman modal asing terbesar di Indonesia. Pada 2025, realisasi investasi China mencapai hampir US$ 8,1 miliar atau sekitar 13% dari total investasi asing, terutama di sektor industri pengolahan, perdagangan, energi, properti, serta transportasi dan pergudangan.
Dalam pertemuan itu, Airlangga juga membahas penguatan kerja sama melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP). Hingga saat ini, sebanyak 30 nota kesepahaman telah ditandatangani dengan estimasi nilai investasi sekitar Rp37,1 triliun.
Menko Airlangga menekankan pentingnya menindaklanjuti berbagai nota kesepahaman tersebut menjadi proyek investasi yang konkret. Ia juga mendorong pembentukan usaha patungan (joint venture) antara pelaku usaha Indonesia dan China untuk mempercepat implementasi kerja sama dalam kerangka TCTP.
"Berbagai MoU yang telah ditandatangani perlu segera ditindaklanjuti menjadi investasi nyata. Kami juga mendorong pembentukan joint venture agar kerja sama TCTP dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih konkret," tandas dia.
Selain itu, menurut Airlangga, pemerintah mengharapkan dukungan Kementerian Perdagangan China untuk mendorong keterlibatan perusahaan-perusahaan China sebagai investor dalam pengembangan kawasan industri dan kawasan komersial di Indonesia.
“Di bidang perdagangan, Indonesia mendorong hubungan dagang yang lebih seimbang melalui perluasan akses pasar bagi produk Indonesia, peningkatan ekspor produk bernilai tambah, penguatan hilirisasi, serta investasi yang berorientasi ekspor,” tutur dia.
Baca Juga
Gabung WAICO, Menko Airlangga Sebut Xi Jinping dan Prabowo Punya Visi Sama Soal Kecerdasan Buatan
Dalam konteks tersebut, Airlangga berharap Danantara Indonesia berperan sebagai mitra strategis dalam menarik investasi berkualitas, memperkuat kapasitas produksi nasional, dan mengembangkan proyek prioritas. Juga dalam memperkuat rantai pasok, meningkatkan transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung perdagangan bilateral yang lebih berimbang.
Menko Airlangga mengemukakan, dalam kerja sama ekonomi regional, Indonesia meminta dukungan China terhadap pembentukan dan penempatan Sekretariat Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di Indonesia.
“Pemerintah juga mendorong penguatan agenda RCEP 3.0 agar tetap relevan dalam merespons perubahan perdagangan global, transformasi digital, dan dinamika rantai pasok,” tutur dia.
Menjelang penyelenggaraan APEC 2026 di China, Airlangga menyampaikan dukungan Indonesia terhadap keketuaan China. Ia berharap kedua negara mulai mengidentifikasi proyek-proyek prioritas yang dapat diumumkan pada pertemuan para pemimpin kedua negara. (ant)

