Menko Perekonomian: Bangkitkan Industri Tekstil, Pemerintah Siapkan Dana US$6 Miliar atau Rp 100 T
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id— Untuk membangkitkan kembali industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang pernah berjaya ada dekade 1970-an hingga1990-an, pemerintah menyediakan dana sebesar US$ 6 miliar atau sekitar Rp 100 triliun. Indonesia memiliki cukup banyak daya saing yang melebihi negara mana pun. Mesin tekstil yang sudah uzur akan dimodernkan. Pemerintah sudah memiliki roadmap untuk mengembalikan kejayaan industri TPT guna membuka lapangan kerja dan mendongkrak ekspor.
“Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak pakai pakaian dan alas kaki. Oleh karena itu, tekstil tidak boleh dilabeli sunset industry,” kata Menko Perekomomian Airlangga Hartarto pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2026 di Birawa Assembly Hall, Bidakara Hotel, Jakarta, Kamis (05/02/2026). Acara yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini dihadiri oleh petinggi OJK, SRO, para pelaku industri keuangan, pejabat pemerintah dan lembaga negara, serta pemimpin media massa.
Airlangga menyampaikan satu “titipan” pemerintah, yakni perbaikan industri padat karya, khususnya tekstil. Ia mengatakan Presiden Prabowo telah menyetujui penyiapan dana sebesar US$6 miliar atau sekitar Rp 100 triliun untuk mendukung upaya tersebut. Pemerintah juga disebut telah memiliki roadmap. Ekspor TPT yang saat ini sekitar US$4 miliar, dapat ditingkatkan menjadi 10 kali dalam periode 10 tahun.
Ada sejumlah alasan yang membuat Airlangga optimistis. Indonesia telah membuat perjanjian dagang dengan hampir semua blok —Eropa, Asia, dan China— serta sedang melakukan pembicaraan dengan AS. “Dari 8 miliar penduduk dunia saat ini, tidak ada yang tidak mau pakai baju atau pakai sepatu,” sehingga pasar seharusnya tetap terjaga, paparnya.
Baca Juga
Bank Dunia Dukung Revitalisasi Industri Tekstil Indonesia, Dukung Pembiayaan Revitalisasi Sritex?
Airlangga mengingatkan agar sektor tekstil tidak dilabeli sebagai “sunset industry”. Menurutnya, tidak ada sektor yang benar-benar sunset, karena merek global seperti Nike, Adidas, Zara terus tumbuh. Ia meminta OJK ikut menjaga agar sektor-sektor seperti sepatu, tekstil, garmen, dan furnitur tetap mendapatkan kredit.
Pemerintah, lanjut Airlangga, akan menyiapkan skema co-investing/co-financing dan formulanya akan dibahas. Indonesia diperkirakan menjadi negara kelima yang mampu menjadi pemain tekstil besar. Indonesia pernah menjadi pemain besar, tetapi pengusaha terganggu karena lahan industri jika menjadi properti nilainya bisa 10 kali, sehingga terjadi pergeseran. Karena itu, menurutnya, Indonesia harus reinvest lagi.
Airlangga menambahkan alasan daya saing: dari sisi energi, biaya tenaga kerja, biaya listrik, dan biaya air, Indonesia dinilai kompetitif dibanding Vietnam, China, Thailand. Karena itu, ia menegaskan “tidak ada alasan Indonesia tidak bisa mengembalikan kekuatan sektor padat karya.”

