Harga Emas Turun 3% Seusai Trump Ancam Blokade Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas turun lebih 3% pada Senin (13/7/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran. Pernyataan tersebut memicu lonjakan harga minyak, meningkatkan kekhawatiran inflasi, serta memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan bertahan lebih tinggi dalam waktu lama.
Harga emas spot turun 3,1% menjadi US$ 3.991,56 per ons. Penurunan itu menjadi pelemahan selama dua sesi perdagangan berturut-turut. Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat turun 2,6% dan ditutup pada US$ 4.005,70 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik ke Rp 2,650 Juta per Gram, 'Buyback' Ikut Menguat
"Harga minyak melonjak karena konflik di Timur Tengah, dan ada potensi pengetatan kebijakan dari Federal Reserve (The Fed). Ini adalah kabar buruk bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas," kata Fawad Razaqzada, analis pasar di Forex.com.
Jika harga minyak terus naik, harga emas bisa anjlok dan berpotensi menuju level US$ 3.800 pada awalnya. "Mungkin ke US$ 3.500 seiring waktu jika tekanan jual meningkat," tambahnya.
Tekanan terhadap pasar emas meningkat setelah Trump mengatakan Amerika Serikat akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran. Ia juga menyatakan Washington akan mengenakan penggantian biaya sebesar 20% terhadap seluruh kargo yang dikirim melalui Selat Hormuz setelah Teheran mengklaim telah menutup jalur pelayaran strategis tersebut.
Pernyataan itu langsung mendorong harga minyak berjangka melonjak sekitar 5% karena pasar mengkhawatirkan gangguan pasokan energi global. Kenaikan harga minyak berpotensi mempercepat inflasi melalui kenaikan biaya energi dan transportasi.
Kondisi tersebut dapat mendorong Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkannya guna mengendalikan tekanan harga.
Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Saat suku bunga naik, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen berbunga yang menawarkan pengembalian lebih tinggi.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 71% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada September.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini 9 Juli 2026 Stabil di Rp 2,641 Juta per Gram
Perhatian investor kini beralih pada kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa. Sidang di hadapan Kongres tersebut menjadi kesempatan pertama bagi Warsh untuk memaparkan pandangan kebijakan moneternya sejak menjabat.
Pelaku pasar akan mencermati setiap pernyataannya guna mencari petunjuk mengenai arah suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Selain itu, Pemerintah Amerika Serikat dijadwalkan merilis sejumlah indikator ekonomi penting sepanjang pekan ini. Data yang akan diumumkan meliputi Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI), Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI), laporan penjualan ritel Juni, serta data klaim pengangguran mingguan.
