Bos Gaikindo Sebut Pasar EV Tak Lagi Bergantung Insentif, Mengapa?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada insentif pemerintah. Apa alasannya?
Sebelumnya, Kemenperin meminta pemerintah segera memberikan kepastian mengenai insentif kendaraan listrik yang berpotensi mundur dari Juli menjadi Agustus 2026. Namun, Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika mengatakan, insentif memang berperan besar dalam mendorong pertumbuhan industri otomotif. Salah satu contohnya adalah program Low Cost Green Car (LCGC) yang dinilai berhasil meningkatkan penjualan kendaraan rendah emisi.
"Program LCGC cukup bagus, di mana kendaraan-kendaraan yang emisi rendah itu diberikan insentif. Program itu pernah mencapai sekitar 20 sampai 22 persen dari pasar," kata Putu dalam konferensi pers GIIAS 2026 di Jakarta, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, kebijakan insentif kemudian berlanjut melalui skema kendaraan rendah emisi. Pemerintah memberikan tarif pajak barang mewah yang lebih rendah untuk kendaraan hybrid, plug-in hybrid, hingga battery electric vehicle (BEV).
Ia mengungkapkan hasilnya justru mulai terlihat pada perkembangan pasar. Hingga semester I 2026, pangsa pasar kendaraan elektrifikasi, mulai dari BEV, hybrid, hingga plug-in hybrid, telah mencapai sekitar 26%.
Baca Juga
Digelar Bulan Ini, GIIAS 2026 Klaim Perkuat Posisi Indonesia sebagai Magnet Industri Otomotif Dunia
Meski demikian, Putu menilai kondisi pasar saat ini berbeda dibandingkan masa pandemi Covid-19 ketika pemerintah menerapkan insentif PPnBM Ditanggung Pemerintah (DTP). Saat itu, insentif dibutuhkan untuk memulihkan permintaan kendaraan yang tertekan.
"Nah, sekarang ini dengan melihat pembenahan pasar yang cukup bagus, PPN DTP ini masih dievaluasi," ujarnya.
Menurut dia, persaingan harga antarprodusen kini jauh lebih agresif. Berbagai merek menawarkan diskon dan program penjualan yang membuat harga kendaraan, termasuk mobil listrik, semakin terjangkau tanpa harus menunggu insentif tambahan.
"Produsen otomotif benar-benar sangat bersaing. Mereka memberikan banyak fasilitas dan diskon sehingga harga kendaraan bisa turun drastis," kata Putu.
Sebelumnya, Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif mengingatkan, ketidakpastian insentif berpotensi membuat konsumen menunda pembelian kendaraan baru. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menekan penjualan industri otomotif jika kepastian kebijakan tidak segera diberikan.
