Ada Insentif Fiskal, Gaikindo Yakin PPN 12% Tak Akan Gerus Penjualan Mobil 2025
JAKARTA, investortrust.id – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yakin penaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% pada 2025 tak akan menggerus penjualan mobil di pasar domestik.
Pasalnya, menurut Ketua Umum Gaikindo, Yohanes Nangoi, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang dapat mendorong penjualan mobil tahun depan.
"Kebijakan positif pemerintah tersebut membangun keyakinan bagi industri kendaraan bermotor Indonesia bahwa penaikan tarif PPN menjadi 12% mulai 1 Januari 2025 tidak akan berdapak negatif pada potensi penjualan, bahkan dapat diabaikan," ungkap Nangoi dalam keterangannya, Kamis (26/12/2024).
Baca Juga
Gaikindo Optimistis Target Penjualan 1 Juta Unit Mobil Bakal Tercapai di 2025, Asalkan…
Kebijakan yang telah diambil pemerintah sejalan dengan penaikan tarif PPN dari 11% menjadi 12% tahun depan di antaranya insentif fiskal 3% untuk kendaraan hybrid (HEV) yang akan berlaku mulai 1 Januari 2025.
Sementara itu, insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) akan tetap dilanjutkan, yakni insentif PPN ditanggung pemerintah (DTP) 10% untuk impor mobil listrik utuh terurai (completely knocked down/CKD), serta Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) DTP untuk impor mobil listrik utuh tak terurai (completely built up/CBU) dan CKD sebesar 15%, serta pembebasan Bea Masuk (BM) mobil listrik CBU.
Sederet kebijakan itu disambut baik Gaikindo. “Kami menyampaikan apresiasi kepada pemerintah yang telah memberikan perhatian besar terhadap kinerja industri kendaraan bermotor yang tengah menghadapi tantangan berkelanjutan,” ujar Nangoi.
Baca Juga
Bos Toyota Ragu Target Penjualan Mobil 1 Juta Unit di 2025 Tercapai, Ini Alasannya
Yohanes Nangoi juga yakin kebijakan pemerintah tersebut akan menjadi salah satu faktor yang menggairahkankembali pasar otomotif pada 2025. "Karena itu, keluarnya kebijakan insentif bagi kendaraan hybrid merupakan berita baik yang diharapkan mampu memulihkan dan menggairahkan kembali industri kendaraan bermotor Indonesia,” tutur dia.
Para pelaku industri otomotif memperkirakan penjualan mobil di Tanah Air tahun ini hanya mencapai 850 ribu unit dari target awal sebanyak 1 juta unit. Turunnya daya beli masyarakat merupakan salah satu faktor penyebab lesunya penjualan mobil sepanjang tahun ini.

