Dolar AS Menguat, Harga Emas Terkoreksi dari Level Tertinggi 2 Pekan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas turun dari level tertinggi dalam dua pekan pada perdagangan Senin (6/7/2026), dipicu penguatan dolar AS. Penurunan tersebut berlangsung terbatas karena perlambatan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) meningkatkan harapan bahwa Federal Reserve atau The Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga, sehingga prospek logam mulia tetap mendapat dukungan.
Harga emas spot turun 0,4% menjadi US$ 4.159,99 per ons. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level tertinggi sejak 22 Juni. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus justru naik 1% menjadi US$ 4.167,50 per ons.
Baca Juga
Kilau Emas Antam (ANTM) Meredup Dibayangi Suku Bunga The Fed
Analis pasar di American Gold Exchange Jim Wyckoff mengatakan penguatan indeks dolar menjadi faktor utama yang menekan harga emas pada perdagangan harian. "Indeks dolar AS sedikit lebih tinggi hari ini dan itu merupakan elemen bearish harian (untuk emas)," kata Wyckoff dilansir CNBC.
Dolar AS menguat 0,3%, sehingga membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar. Kondisi tersebut biasanya mengurangi permintaan logam mulia di pasar internasional.
Data ekonomi yang dirilis pekan lalu menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat melambat signifikan pada Juni. Selain itu, pemerintah juga merevisi turun data penciptaan lapangan kerja untuk dua bulan sebelumnya. Perkembangan tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Pasar Menanti Risalah The Fed
Perhatian investor kini tertuju pada risalah rapat kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (8/7/2026). Dokumen tersebut diperkirakan memberikan gambaran lebih rinci mengenai pandangan para pejabat bank sentral terhadap kondisi ekonomi dan arah suku bunga ke depan.
"Para pedagang akan meneliti risalah tersebut untuk melihat apakah mereka dapat memperoleh petunjuk lain mengenai arah kebijakan moneter AS, dan kejutan apa pun yang muncul dari risalah tersebut tentu akan memengaruhi pergerakan pasar," ujar Wyckoff.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 56% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September.
Baca Juga
Harga Emas Melonjak 2%, Data Tenaga Kerja AS Picu Harapan Pelonggaran The Fed
Sementara itu, JP Morgan dalam catatan riset yang diterbitkan Jumat menyatakan permintaan emas dari sejumlah sektor utama diperkirakan tidak akan sekuat proyeksi sebelumnya. Karena itu, bank investasi tersebut memperkirakan kenaikan harga emas sepanjang tahun akan lebih terbatas.
JP Morgan memperkirakan harga emas berpotensi mencapai US$ 4.300 per ons pada kuartal III dan meningkat menjadi sekitar US$ 4.500 per ons pada kuartal IV, lebih rendah dibandingkan ekspektasi optimistis yang sempat berkembang di pasar.
