Gejolak Global Ancam Penerbangan, AHY Susun Tiga Skenario Antisipasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkap pemerintah telah menyiapkan sejumlah simulasi menghadapi dampak gejolak geopolitik global terhadap sektor penerbangan dan kebandarudaraan nasional.
AHY menyebutkan, simulasi tersebut mencakup skenario optimistis, moderat, hingga skenario paling ekstrem atau terburuk.
"Skenario yang kita simulasikan selalu ada tiga, yang paling optimistis, moderat, dan paling ekstrem atau paling buruk. Apapun itu, kita harus siap untuk meng-embrace segala dampak dari perang," kata AHY dalam rapat koordinasi lintas stakeholders di kantor Kemenko IPK, Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2026).
Baca Juga
AHY Bidik Soekarno-Hatta Masuk 10 Bandara Terbaik Dunia pada 2029
Menurut AHY, jika konflik global berakhir pada pertengahan 2026, dampaknya masih berupa perlambatan pertumbuhan. Namun, kondisi yang lebih berat dapat terjadi apabila konflik berlangsung lebih lama hingga 2027.
"Namun, bisa dikatakan masih lebih baik dibandingkan jika itu berlarut dan lebih panjang lagi tembus sampai dengan tahun 2027, harga minyak masuk tembus di angka US$ 110 per barel. Ini sumber dari IMF (International Monetary Fund)," ujar dia.
AHY menjelaskan dinamika geopolitik, termasuk perkembangan di Timur Tengah, berpengaruh terhadap industri penerbangan karena biaya bahan bakar menyumbang sekitar 40% dari total biaya operasional maskapai di Indonesia.
"Jadi pasti apa yang terjadi di Timur Tengah terhadap energymarket, harga minyak, ini juga berpengaruh sedikit banyak pada industri penerbangan. Bahan bakar kita tahu menyumbang 40% dari total biaya operasional maskapai-maskapai di Indonesia," ucap AHY.
Ia menyoroti proyeksi perlambatan pertumbuhan penumpang penerbangan global. Pada 2024, kata AHY, pertumbuhan penumpang penerbangan global tercatat sebesar 10,4%, kemudian turun menjadi 5,2% pada 2025.
Sementara itu, pertumbuhan pada 2026 diproyeksikan kembali melambat menjadi 2,1%. Data tersebut diambil dari International Air Transport Association (IATA) dan telah diolah Kemenko IPK.
Baca Juga
Giant Sea Wall RI Makin Nyata, Menko AHY Cari Partner dari Luar Negeri
"Tahun 2024 pertumbuhannya 10,4%. 2025 langsung drop setengahnya, 5,2%, dan proyeksi 2026 ini juga lebih buruk lagi, pertumbuhan hanya di 2,1%," papar AHY.
Meski demikian, AHY menegaskan, pemerintah tetap melanjutkan agenda penguatan sektor kebandarudaraan, termasuk target menjadikan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) masuk 10 besar bandara terbaik dunia pada 2029 mendatang.
AHY menyebut peringkat Bandara Soekarno-Hatta (CGK) terus membaik dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, bandara tersebut berada di peringkat 51 dunia, kemudian naik menjadi peringkat 25 pada 2025 dan peringkat 22 pada 2026.
"Kita sekarang di 2026, sebelumnya tahun 2025 kita di peringkat 25. Jadi sudah naik tiga peringkat. Sedangkan proyeksi kita di 2027, 2028, 2029, kenapa tidak kita punya ambisi untuk kita masuk ke 10 besar," tutur putra sulung Presiden RI ke-6 itu.
