Jatuh ke Bawah US$ 4.000, Kilau Emas Memudar Dihantam Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas jatuh ke level terendah dalam lebih dari 7 bulan pada perdagangan Rabu (24/6/2026), bahkan sempat menembus level psikologis US$ 4.000 per ons. Tekanan datang dari penguatan dolar AS serta meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Harga emas spot turun 2,9% menjadi US$ 3.981,21 per ons. Sepanjang sesi perdagangan, logam mulia tersebut menyentuh level terendah sejak November 2025. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS melemah 3,4% dan ditutup pada US$ 4.008,80 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Anjlok 1,3% dan Perak Tersungkur 5% Seusai Sinyal 'Hawkish' The Fed
Penurunan harga emas terjadi seiring menguatnya dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Kondisi tersebut membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan cenderung melemah.
Di saat yang sama, pelaku pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga AS tahun ini. Pandangan tersebut menguat setelah The Fed mengirimkan sinyal kebijakan yang lebih agresif dalam pertemuan terakhirnya. Kekhawatiran mengenai tekanan inflasi akibat konflik yang melibatkan Iran juga turut memengaruhi perhitungan pasar.
“Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga secepatnya pada bulan September karena kebijakan The Fed yang agresif, penguatan dolar ke level tertinggi 13 bulan, ditambah dengan ekspektasi inflasi yang lebih rendah, memberikan tekanan berat pada logam mulia,” kata Tai Wong, pedagang logam independen dikutip Reuters.
Menurut Wong, peluang terjadinya kejatuhan harga emas yang lebih dalam masih relatif terbatas karena dukungan pembelian dari bank-bank sentral dunia tetap berlanjut.
“Untuk emas, ada dukungan tepat di bawah US$ 3.900 dan pembelian bank sentral terus berlanjut, jadi keruntuhan tidak mungkin terjadi, tetapi perkirakan periode konsolidasi yang berpotensi panjang karena perdagangan emas sekarang tidak lagi diminati,” tambahnya.
Suku Bunga Tinggi Kurangi Daya Tarik Emas
Secara historis, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga meningkat. Berbeda dengan instrumen, seperti obligasi atau deposito, emas tidak memberikan imbal hasil sehingga investor biasanya beralih ke aset yang menawarkan pendapatan lebih tinggi saat biaya pinjaman naik.
Tekanan yang terjadi kali ini memperpanjang tren pelemahan harga emas sejak mencetak rekor tertinggi di US$ 5.594,82 per ons pada akhir Januari 2026. Dengan posisi harga saat ini, emas telah kehilangan lebih dari US$ 1.600 per ons dari puncaknya.
Perubahan prospek pasar juga mendorong sejumlah lembaga keuangan menurunkan target harga emas. Analis ING memangkas proyeksi harga rata-rata emas menjadi US$ 4.300 per ons pada kuartal III-2026 dan US$ 4.600 per ons pada kuartal IV-2026. Sebelumnya, lembaga tersebut memperkirakan harga emas masing-masing berada di level US$ 4.850 dan US$ 5.000 per ons.
Pasar kini mengalihkan perhatian pada data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi pilihan The Fed yang dijadwalkan dirilis pada Kamis (25/6/2026). Data tersebut dipandang penting untuk memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter AS.
Baca Juga
Harga Emas Menguat Saat Harapan Kesepakatan AS-Iran Tekan Harga Minyak
Analis riset senior FXTM, Lukman Otunuga, menilai risiko pelemahan harga emas masih terbuka apabila data ekonomi AS menunjukkan tekanan inflasi yang tetap kuat atau para pejabat The Fed kembali menyampaikan nada kebijakan yang agresif.
“Sinyal-sinyal yang lebih agresif dari para pejabat Fed atau data ekonomi yang mendukung argumen untuk suku bunga yang lebih tinggi dapat berujung pada risiko penurunan lebih lanjut bagi harga emas,” ujarnya.
Tidak hanya emas, tekanan juga melanda logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 4,8% menjadi US$ 59,08 per ons setelah menyentuh level terendah sejak Desember 2025.
