MIND ID Dorong Pengembangan Sulfur Domestik untuk Industri Nikel
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia mulai mengakselerasi strategi pengembangan sumber sulfur domestik di tengah meningkatnya kebutuhan industri pengolahan nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik (electrical vehicle/EV), yang selama ini masih bergantung pada impor dalam skala besar.
Langkah ini mengemuka seiring upaya holding BUMN pertambangan, MIND ID, yang mengidentifikasi potensi pemanfaatan by-product dari tambang tembaga dan emas sebagai sumber alternatif sulfur untuk menopang kebutuhan industri hilirisasi nikel nasional. Inisiatif tersebut penting karena industri baterai berbasis nikel semakin membutuhkan pasokan bahan kimia pendukung dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
Baca Juga
Investasi Hilirisasi Nikel Tembus Rp 41,5 Triliun, Maluku Utara Diproyeksikan Jadi Acuan Global
Direktur Perencanaan Pengolahan Sumber Daya Mineral MIND ID Budi Santoso menyatakan perusahaan bersama anggota holding tengah melakukan inventarisasi potensi pemanfaatan limbah industri tambang untuk diolah menjadi sulfur dan asam sulfat. Ia menekankan bahwa optimalisasi by-product menjadi bagian dari strategi memperkuat kemandirian rantai pasok mineral strategis nasional.
"Kita memiliki by product itu tembaga maupun emas ada iron oxide dan iron sulfate yang mestinya itu bisa kita proses, diolah, diekstrak untuk menjadi dan diambil sulfurnya maupun diambil dan dijadikan asam sulfat untuk memenuhi hal tersebut," ujar Budi dalam diskusi Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia di Jakarta, dikutip Selasa (23/6/2026).
Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada efisiensi produksi, tetapi juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku kimia yang selama ini menjadi tulang punggung industri pengolahan nikel di Indonesia.
Dalam konteks industri, sulfur memiliki peran krusial sebagai bahan utama dalam proses high pressure acid leach (HPAL), yaitu teknologi yang digunakan untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), salah satu bahan baku utama baterai kendaraan listrik.
Proses HPAL membutuhkan konsumsi sulfur dalam jumlah besar, dengan estimasi setiap satu ton MHP memerlukan sekitar 11,7 ton sulfur. Kondisi ini membuat pertumbuhan industri baterai berbasis nikel secara langsung meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan pasokan sulfur nasional.
Saat ini, lebih dari 70% kebutuhan sulfur industri nikel Indonesia masih dipenuhi melalui impor, dengan sekitar 75% hingga 80% berasal dari kawasan Timur Tengah. Total impor nasional tercatat mencapai sekitar 5,3 juta ton per tahun, menunjukkan tingginya ketergantungan terhadap pasar global. "Kondisi sekarang, ternyata di Indonesia 70 persen lebih kebutuhan sulfur nikel itu didapatkan melalui impor dan surprisingly itu ada di area di mana saat ini sedang berkecamuk di Timur Tengah," ujar Budi.
Ketergantungan tersebut mulai menjadi perhatian serius pelaku industri seiring meningkatnya risiko geopolitik global yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan dan harga.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mencatat lonjakan harga sulfur yang signifikan dalam periode singkat, yang mempertegas kerentanan struktur pasokan global. "Harga sulfur hari ini itu 1.200. Pada bulan April tahun lalu harganya hanya 250 saja," ujar Arif dalam forum Indonesia Critical Minerals di Jakarta awal Juni 2026.
Lonjakan harga tersebut mendorong pelaku industri hilirisasi nikel untuk melakukan diversifikasi sumber impor ke Kanada, Amerika Serikat, dan Korea Selatan sebagai langkah mitigasi jangka pendek terhadap volatilitas pasar.
Di sisi lain, MIND ID juga menyoroti tantangan lain dalam penguatan ekosistem baterai nasional, khususnya ketergantungan terhadap impor litium yang masih menjadi komponen penting dalam beberapa jenis baterai. "Ini dengan catatan kalau kita punya materialnya ya. Tapi ada juga yang tidak punya, misalnya tadi baterai yang basisnya litium, litium-nya masih harus impor," kata Budi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, MIND ID mendorong percepatan riset pengembangan baterai berbasis nikel sebagai keunggulan komparatif Indonesia, mengingat cadangan nikel nasional yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia. "Kita mestinya karena kita punya nikel, kita dorong riset terhadap bagaimana baterai yang basisnya itu nikel harus lebih efisien dibandingkan yang litium," ujarnya.
Baca Juga
Investasi Hilirisasi Nikel Tembus Rp 41,5 Triliun, Maluku Utara Diproyeksikan Jadi Acuan Global
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai penguatan rantai pasok domestik yang mencakup pemanfaatan by-product mineral merupakan langkah strategis dalam memperkuat nilai tambah industri nasional. "Jika kita hanya mengandalkan ekstraksi atau pengolahan pada tahap awal, maka ketika mineral itu habis, manfaat ekonominya juga akan berhenti," ujar Faisal.
Ia menekankan bahwa semakin panjang rantai nilai yang dapat dikuasai Indonesia, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang, termasuk penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor hilirisasi. "Mungkin bahan bakunya sudah tidak tersedia sebanyak sebelumnya, tetapi sumber daya manusia yang telah memiliki kemampuan mengembangkan produk-produk turunannya tetap kita miliki," katanya.
Faisal menambahkan bahwa konsistensi kebijakan menjadi faktor penting agar investasi hilirisasi dapat berjalan berkelanjutan dan tidak hanya berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan awal seperti smelter.
