Moody’s Tetapkan Peringkat Baa2 untuk Danantara Investment Management, 'Outlook' Negatif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings untuk pertama kalinya menetapkan peringkat Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM). Moody’s juga memberikan peringkat sementara Baa2 untuk program global medium term notes (MTN) senior tanpa jaminan yang akan diterbitkan perusahaan, dengan seluruh peringkat tersebut disertai prospek negatif.
Selain program MTN global, Moody’s turut menetapkan peringkat Baa2 untuk rencana penerbitan surat utang senior tanpa jaminan DIM.
Wakil Presiden sekaligus Analis Senior Moody’s Ratings Rachel Chua mengatakan, peringkat DIM disejajarkan dengan peringkat kedaulatan Indonesia yang saat ini berada pada level Baa2 dengan prospek negatif.
Penilaian tersebut didasarkan pada hubungan kredit yang sangat erat antara DIM dan pemerintah, termasuk struktur kepemilikan perusahaan dalam kerangka Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
“Peringkat ini didukung hubungan kredit yang kuat, termasuk struktur kepemilikan di dalam kerangka institusional Danantara serta ekspektasi kami terhadap dukungan luar biasa yang tepat waktu dari pemerintah,” kata Rachel dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Moody’s mengklasifikasikan DIM sebagai Government Related Issuer (GRI) atau emiten terkait pemerintah dan menggunakan pendekatan penilaian top-down. Lembaga pemeringkat tersebut tidak memberikan Baseline Credit Assessment (BCA) karena DIM masih berada pada tahap awal pengembangan, memiliki rekam jejak operasional terbatas, dan belum menjalankan aktivitas usaha mandiri yang signifikan.
Baca Juga
Danantara Pangkas 67 Anak Usaha Telkom (TLKM) Jadi 19 Entitas
Untuk itu, peringkat DIM lebih ditentukan oleh keterkaitannya dengan pemerintah dibandingkan profil kredit perusahaan secara mandiri.
Moody’s menilai hubungan kepemilikan antara DIM dan pemerintah sangat kuat. DIM merupakan anak usaha yang sepenuhnya dimiliki BPI Danantara, yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025. Aturan tersebut juga mensyaratkan setiap divestasi kepemilikan dilakukan melalui perubahan undang-undang, sehingga memperkuat ikatan kepemilikan kedua entitas.
Selain itu, tingkat pengawasan pemerintah yang tinggi dinilai meningkatkan peluang dukungan luar biasa apabila diperlukan. Integrasi tata kelola juga tercermin dari kesamaan jajaran manajemen senior dan dewan antara BPI Danantara dan DIM.
Moody’s mencatat anggaran tahunan DIM dikonsolidasikan ke dalam anggaran BPI Danantara yang disetujui dewan pengawas. Dewan tersebut beranggotakan 11 orang, termasuk sembilan menteri aktif. Sementara itu, rencana kerja dan anggaran tahunan DIM juga harus dikonsultasikan dengan DPR.
Setiap keputusan investasi DIM pun melalui proses persetujuan berlapis, mulai dari komite investasi internal, direksi, dewan komisaris, hingga BPI Danantara sebagai pemegang saham tunggal, bergantung pada nilai dan materialitas transaksi.
Modal Awal Rp 70 Triliun
Secara kinerja keuangan, Moody’s menilai integrasi DIM dalam struktur Danantara mendukung likuiditas perusahaan. Dividen yang diterima BPI Danantara dari BUMN akan dialokasikan kembali, termasuk dalam bentuk penyertaan modal kepada DIM untuk mendanai investasi.
Pada 2025, DIM memperoleh suntikan modal awal sebesar Rp 70 triliun dan diperkirakan menerima tambahan Rp 50 triliun pada 2026. Selain itu, perusahaan telah memperoleh pendanaan eksternal melalui penerbitan Patriot Bonds senilai Rp 68,4 triliun dan fasilitas kredit bergulir (revolving credit facility) sebesar US$ 10 miliar. Dari total fasilitas tersebut, sekitar US$ 1 miliar telah berstatus committed.
Sebagian fasilitas kredit telah dimanfaatkan untuk penempatan dana pada private funds dan investasi yang berkaitan dengan sektor properti. Moody’s memperkirakan penarikan dana akan terus meningkat seiring ekspansi investasi perusahaan.
Menurut Moody’s, posisi likuiditas DIM sangat kuat karena didukung suntikan modal dari BPI Danantara, tidak memiliki kewajiban pembayaran dividen, serta belum menghadapi jatuh tempo utang dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Baca Juga
Prospek negatif yang diberikan kepada DIM sejalan dengan prospek negatif peringkat kedaulatan Indonesia. Mengingat kuatnya hubungan dengan pemerintah, peringkat DIM diperkirakan akan bergerak mengikuti perubahan peringkat negara.
Moody’s menilai peluang kenaikan peringkat dalam waktu dekat relatif terbatas. Namun, peringkat DIM dapat meningkat apabila peringkat kedaulatan Indonesia naik dan hubungan perusahaan dengan pemerintah tetap kuat.
Sebaliknya, penurunan peringkat Indonesia berpotensi menekan peringkat DIM. Risiko serupa juga dapat muncul apabila terjadi perubahan mandat, struktur kepemilikan, atau peran DIM dalam ekosistem Danantara yang mengurangi ekspektasi dukungan pemerintah terhadap perusahaan.

