China Masih Menjadi Pasar Utama Ekspor Tiga Komoditas Strategis yang Diawasi PT DSI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – China masih menjadi salah satu tujuan utama ekspor tiga komoditas strategis yang kini berada di bawah pengawasan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), yakni batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferro alloy.
Pemerintah menetapkan PT DSI sebagai badan yang mengawasi ekspor tiga komoditas tersebut. Mulai 1 Juni 2026, para pelaku usaha wajib melaporkan kegiatan ekspor batu bara, CPO, dan ferro alloy.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pengawasan tersebut dilakukan untuk mendorong penguatan penerimaan negara dari sektor komoditas strategis.
Baca Juga
DSI Diproyeksi Bisa Jadi Katalis Positif bagi Ekonomi dan Pasar Modal Indonesia
"Ketika komoditas strategis ini menyumbang nilainya di tahun 2025 sebesar US$ 66,13 miliar atau sebesar 23,4% dari total ekspor nasional," ujar Airlangga di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (31/5/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan China masih menjadi salah satu pasar utama bagi ketiga komoditas tersebut sepanjang 2026.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan negara tujuan ekspor batu bara terbesar adalah India, China, dan Jepang. Sementara untuk ekspor kelapa sawit, tujuan utama adalah India, China, dan Pakistan. "Kemudian untuk negara tujuan ferro alloy adalah China, Korea Selatan, dan India," ujar Pudji, Selasa (2/6/2026).
Secara kumulatif, nilai ekspor batu bara, CPO, dan ferro alloy selama Januari-April 2026 mencapai US$ 21,85 miliar. Nilai tersebut terdiri atas ekspor batu bara sebesar US$ 8,48 miliar, ekspor CPO US$ 8,22 miliar, dan ekspor ferro alloy sebesar US$ 5,15 miliar.
Untuk komoditas batu bara atau HS 2701, nilai ekspor pada Januari 2026 tercatat sebesar US$ 1,82 miliar, Februari US$ 1,66 miliar, Maret US$ 2,03 miliar, dan April meningkat menjadi US$ 2,97 miliar.
Baca Juga
TMAS Putuskan Dividen Rp 228 Miliar, Ini Besarannya per Saham
Sementara itu, ekspor kelapa sawit atau HS 1511 mencapai US$ 2,29 miliar pada Januari, US$ 2,4 miliar pada Februari, US$ 1,42 miliar pada Maret, dan US$ 2,11 miliar pada April 2026.
Adapun ekspor ferro alloy atau HS 7202 selama Januari-April 2026 tercatat sebesar US$ 1,18 miliar pada Januari, US$ 1,18 miliar pada Februari, US$ 1,38 miliar pada Maret, dan meningkat menjadi US$ 1,41 miliar pada April.
"Untuk ekspor ferro alloy atau HS 7202 selama Januari-April 2026, Januari US$ 1,18 miliar, Februari US$ 1,18 miliar, Maret US$ 1,38 miliar, dan April US$ 1,41 miliar," ujar Pudji.

