Bagikan

Kendati Cemaskan Pelemahan Industri, Pengusaha Pastikan PHK Bukanlah Opsi Utama

Poin Penting

PMI manufaktur Indonesia April 2026 turun ke level 49,1, kembali masuk zona kontraksi sejak Juli 2025.
Ketua Apindo Shinta Kamdani menegaskan PHK massal belum menjadi pilihan utama di tengah tekanan ekonomi global.
Pengusaha memilih mitigasi moderat seperti freeze hiring, efisiensi operasional, hingga peningkatan bahan baku lokal.

JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyebutkan pelemahan aktivitas industri mulai terlihat di tengah tekanan ekonomi global dan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Menurutnya, kondisi tersebut tercermin dari turunnya sejumlah indikator manufaktur nasional dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini terlihat dari PMI manufaktur Indonesia pada April 2026 tercatat turun ke level 49,1 dari sebelumnya 50,1 pada Maret, sehingga kembali masuk ke zona kontraksi untuk pertama kalinya sejak Juli 2025

“Artinya, terdapat pelemahan aktivitas riil dan penurunan optimisme pelaku industri di lapangan, meskipun secara headline pertumbuhan ekonomi masih terlihat cukup kuat,” ujar Shinta kepada Investortrust.id, Senin (18/5/2026).

Meski demikian, Shinta menegaskan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) massal belum menjadi pilihan utama bagi pelaku usaha, terutama di sektor padat karya yang mulai merasakan tekanan cukup besar.

“Pelaku usaha sangat memahami pentingnya menjaga stabilitas tenaga kerja, baik dari sisi sosial maupun keberlanjutan bisnis jangka panjang,” ungkap Shinta.

Ia menjelaskan, sebagian besar perusahaan saat ini lebih memilih melakukan langkah mitigasi yang bersifat moderat, seperti freeze hiring, efisiensi operasional, pengendalian biaya non-esensial, hingga penundaan ekspansi dan investasi baru.

Baca Juga

Rupiah Tembus Rp 17.660, Apindo Sebut Sektor Manufaktur Alami Tekanan Biaya Berat

Selain itu, pelaku usaha juga mulai melakukan diversifikasi pasar, memperkuat penyerapan pasar domestik, serta menyesuaikan rantai pasok untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Dalam beberapa kasus, perusahaan juga mulai melakukan lindung nilai atau hedging terhadap risiko nilai tukar dan meningkatkan penggunaan bahan baku lokal sebagai bagian dari strategi pengendalian biaya produksi.

Di sisi lain, transformasi industri melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi berbasis teknologi juga mulai dijalankan. Namun, langkah tersebut tetap dilakukan dengan mempertimbangkan keberlangsungan tenaga kerja melalui program reskilling dan redeployment pekerja.

“Dunia usaha saat ini masih berupaya keras menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan stabilitas tenaga kerja,” imbuh Shinta.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024