Pengusaha Mamin Tak Bisa Naikkan Harga Kendati Perang Kerek Biaya Logistik dan Produksi
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman menyebutkan konflik di Timur Tengah yang terjadi antara Iran dengan Israel berpotensi besar membuat biaya produksi industri makanan dan minuman membengkak.
Hal tersebut disebabkan biaya logistik karena menambah waktu atau durasi pengapalan, serta nilai tukar uang yang juga berpengaruh karena bahan baku masih banyak yang diimpor. Oleh karenanya, Adhi mengungkapkan, para pengusaha khawatir akan ketidakpastian geopolitik global yang terjadi.
Dari beberapa dampak tersebut, ia mengungkapkan, para pengusaha tidak bisa memutuskan untuk menaikkan harga jual produk makanan dan minuman. Hal ini dikarenakan, pengusaha juga terhimpit dengan penurunan daya beli masyarakat.
"Jadi akhirnya yang saya lihat beberapa perusahaan yang mengambil keputusan, ya sudah sementara tidak naik harga karena faktor daya beli masyarakat," ucap Adhi kepada Investortrust.id, Rabu (25/6/2025).
Baca Juga
Harga Makanan-Minuman Akan Naik Imbas Rupiah Anjlok? Ini Kata Bos Gapmmi
Kendati demikian, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Tetap Pengembangan Industri Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ini mengungkapkan, keputusan untuk tidak menaikan harga jual hanya dapat bertahan 2-3 bulan ke depan.
"Sekarang mungkin hanya 2-3 bulan saja ke depan kita bertahan. Tapi apakah setelah itu harus naik? Kita juga belum bisa ngambil keputusan," ungkapnya.
Lebih lanjut, Adhi menyebutkan, para pengusaha tidak dapat mengambil langkah jangka panjang untuk memutuskan sesuatu. Sehingga sampai saat ini, pelaku industri mamin masih memantau perkembangan geopolitik global yang terjadi hingga beberapa bulan ke depan.
"Ya makanya kita harus sangat hati-hati sekali dan keputusan-keputusan kita mungkin akan jangka pendek, sehingga menyesuaikan perubahan-perubahan itu. Nah inilah yang berat buat dunia usaha," beber Adhi.

