AHY Peringatkan Kerugian Rp 6.396 Triliun Jika 'Giant Sea Wall' Tak Dibangun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkap potensi kerugian ekonomi besar yang dapat dialami Indonesia apabila pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall/GSW) di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa tidak segera direalisasikan.
Dalam paparannya, kawasan Pantura Jawa berkontribusi sebesar 27,53% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional atau setara US$ 368,37 miliar atau sekitar Rp 6.396 triliun (asumsi kurs Rp 17.365 per dolar AS). “Potensi kerugian ekonomi 27% kontribusi dari pantura terhadap PDB nasional, ini signifikan,” kata AHY di Gedung Mina Bahari III Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).
Ia menegaskan, risiko bencana di kawasan tersebut sudah nyata dan tidak bisa diabaikan. “Berbicara dampaknya, kita merasakan bahwa risiko dan dampak bencana ini benar-benar real dan ini tidak boleh kita biarkan,” tegas AHY.
Menurut AHY, kawasan Pantura menghadapi ancaman gelombang pasang ekstrem yang tidak hanya memicu banjir, tetapi juga berpotensi menimbulkan krisis air bersih.
“Gelombang pasang yang ekstrem kemudian juga bukan hanya kita menghadapi kelebihan air dalam bentuk banjir, tapi juga kelangkaan dan krisis air. Ini juga harus kita tangani secara serius,” ujarnya.
Baca Juga
KITB Batang Rencanakan Ekspansi 4.000 Ha Terintegrasi 'Giant Sea Wall'
Ihwal itu, AHY menekankan pentingnya penanganan menyeluruh untuk menjaga kawasan Pantura dari kerusakan lingkungan yang lebih parah. “Kalau kita memiliki proyeksi positif, maka kita harus menangani kondisi pantura Jawa ini dengan baik dan serius. Dijaga jangan sampai terjadi kerusakan lingkungan yang semakin buruk,” ucap dia.
Ia mengungkapkan, kawasan Pantura dihuni sekitar 55 juta penduduk yang tersebar di 20 kabupaten dan 5 kota, dengan sekitar 26% berada di wilayah pesisir. “Ini masyarakat kita jumlahnya besar. Oleh karena itu, ini adalah urgensi yang kita harapkan mendorong dan menggerakkan kita semua,” papar AHY.
Lebih lanjut, AHY menjelaskan pembangunan tanggul laut akan diintegrasikan dengan pengembangan wilayah, termasuk konektivitas transportasi, kawasan permukiman, serta peningkatan ekonomi masyarakat. “Bukan hanya membangun tanggul laut, tetapi mengintegrasikan dengan koridor transportasi yang juga semakin berkelanjutan,” jelas dia.
Ia menambahkan, konsep transit oriented development (TOD) akan dikembangkan untuk menghubungkan kawasan hunian dengan pusat transportasi modern, serta mendorong produktivitas wilayah.
Baca Juga
Prabowo Pimpin Ratas di Istana, Bahas Pembangunan Giant Sea Wall Pantura
Di sektor pertanian, AHY mengungkapkan adanya ancaman intrusi air laut terhadap lahan sawah. Dari total 1,5 juta hektare (ha) sawah di Jawa, sekitar 115.000 ha telah terdampak. “Ini harus kita cegah,” kata AHY. “Investasi dalam modernisasi pertanian tentu dalam bentuk modernisasi irigasi termasuk juga diversifikasi tanaman menjadi lebih feasible,” sambung dia.
Selain itu, AHY menyebut proyek pengembangan kawasan Pantura melalui Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) ini diharapkan dapat menyerap tenaga kerja, khususnya bagi sekitar 6,9 juta masyarakat prasejahtera, sekaligus melindungi aset nasional, seperti kawasan perkotaan, pelabuhan, bandara, jalan, dan infrastruktur utilitas lainnya.

