Hilirisasi Tambang Jalan Mewujudkan Kemaslahatan Umat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bumi Indonesia menyimpan aneka kekayaan yang berlimpah. Di balik kekayaan mineral yang berlimpah, terkandung pula harapan tentang keadilan dan kemaslahatan. Hilirisasi tambang, dalam lanskap masa depan, diproyeksikan akan menjadi jembatan yang menghubungkan kekayaan alam dengan kesejahteraan umat—mengubah yang terpendam menjadi manfaat yang terasa.
Dalam perspektif nilai, Majelis Ulama Indonesia melihat hilirisasi sebagai lebih dari sekadar strategi ekonomi. Ketua MUI Azrul Tanjung menegaskan bahwa arah pengelolaan sumber daya alam harus melampaui eksploitasi. “Hilirisasi bukan sekadar strategi ekonomi, tetapi jalan untuk memastikan kekayaan alam benar-benar kembali kepada rakyat dalam bentuk manfaat nyata,” ujarnya.
Di masa depan, tambang tidak lagi berhenti sebagai aktivitas ekstraksi. Ia akan bertransformasi menjadi ekosistem nilai—dari nikel yang mengalir ke industri kendaraan listrik, hingga batu bara yang berubah menjadi energi alternatif seperti dimetil eter. Dari sana, nilai tambah tumbuh, lapangan kerja terbuka, dan kemandirian industri perlahan menguat.
Namun, jalan ini tidak berdiri tanpa prinsip. Dalam pandangan keislaman, keberlanjutan akan menjadi fondasi. Pengelolaan tambang diproyeksikan harus berjalan dengan keadilan, transparansi, dan tanggung jawab lingkungan. Tanpa itu, kekayaan justru berpotensi menjadi beban.
Baca Juga
Dirut MIND ID Maroef Sjamsoeddin Raih Green Leadership di PROPER 2025
Sejalan dengan itu, Hamdan Zoelva mengingatkan bahwa sumber daya adalah amanah yang harus dimanfaatkan secara baik dan tidak berlebihan. “Intinya bukan pada siapa yang mengelola, tetapi bagaimana tata kelolanya dijalankan secara benar dan memberi manfaat bagi kemanusiaan,” ujarnya.
Di sisi lain, arus investasi mulai menunjukkan bahwa hilirisasi bukan sekadar gagasan, tetapi realitas yang sedang tumbuh. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mencatat, pada triwulan pertama 2026, investasi hilirisasi telah mencapai Rp147,5 triliun—menjadi hampir sepertiga dari total investasi nasional. “Kenapa ini kami angkat? Karena kontribusi dari investasi yang berhubungan dengan hilirisasi itu cukup signifikan mencapai 29,6% di triwulan pertama ini,” ungkap Rosan.
Dari dalam bumi, sektor mineral masih menjadi poros utama. Nikel memimpin, diikuti tembaga, besi baja, hingga bauksit—membentuk rantai nilai yang semakin panjang. “Nomor satu masih nikel dengan Rp 41,5 triliun, kemudian tembaga, besi baja, bauksit, timah, dan lainnya,” papar Rosan.
Namun ke depan, cakrawala hilirisasi akan meluas. Hilirisasi didorong menyentuh perkebunan, kehutanan, hingga ruang-ruang laut yang selama ini belum tergarap optimal. Menariknya, denyut pertumbuhan itu justru akan semakin terasa di luar Jawa. Sulawesi dan Maluku Utara diproyeksikan menjadi episentrum baru, tempat bahan baku bertemu dengan industri.
“Memang kalau dilihat ya tentunya investasi di bidang hilirisasi ini di luar Jawanya jauh lebih signifikan daripada Jawa,” ujar Rosan, menegaskan bahwa pusat pertumbuhan mulai bergeser mengikuti sumber daya.
Bahkan, ke depan, laut akan menjadi babak baru hilirisasi. Investasi di sektor garam, rumput laut, hingga perikanan mulai menemukan momentumnya. “Saya mendapatkan informasi bahwa akan investasi di bidang garam dan juga di bidang rumput laut. Dan ikan tilapia ini sudah mulai akan berjalan pada semester depan,” kata Rosan—membuka kemungkinan bahwa hilirisasi tidak hanya milik tambang, tetapi milik seluruh ekosistem sumber daya Indonesia.
Baca Juga
Tiga Tahun MIND ID, Perkuat Hilirisasi dan Perluas Peran Global
Arah besar ini semakin dipertegas dalam pertemuan di Hambalang. Presiden Prabowo Subianto menerima laporan perkembangan hilirisasi yang akan diperluas ke berbagai wilayah. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa tahap berikutnya akan menjangkau lebih banyak titik di Indonesia. “Perkembangan program hilirisasi yang berikutnya akan dibangun segera pada 13 lokasi di Indonesia,” ujarnya.
Tidak hanya itu, arus investasi juga diproyeksikan akan semakin beragam—dari energi berbasis limbah hingga industri agrikultural dan manufaktur padat karya. “Beberapa investor yang akan berinvestasi di Indonesia terutama dalam bidang waste to energy, sumber daya mineral serta industri agrikultural, padat karya dan garmen,” jelas Teddy.
Lebih jauh, Presiden menginginkan hilirisasi tidak berjalan dalam ruang yang sempit. Ia akan diperluas hingga menyentuh sektor pertanian dan perikanan, menjadikannya sebagai gerakan ekonomi yang inklusif. “Presiden Prabowo menginginkan bahwa hilirisasi tidak hanya di bidang energi dan mineral tetapi juga harus diperluas di bidang pertanian dan perikanan,” ujar Teddy.
Di sanalah makna hilirisasi menemukan bentuknya yang paling utuh. Ia bukan hanya tentang industri, tetapi tentang keadilan distribusi manfaat. Dari tambang hingga laut, dari pusat hingga daerah, dari angka investasi hingga kesejahteraan nyata.
Pada akhirnya, hilirisasi tambang diproyeksikan akan menjadi jalan panjang menuju kemaslahatan umat—sebuah perjalanan di mana kekayaan alam tidak lagi berhenti di permukaan angka, tetapi mengalir menjadi manfaat yang dirasakan, dijaga keberlanjutannya, dan diwariskan untuk generasi mendatang.
Baca Juga
Hilirisasi Digenjot, MIND ID Bangun Rantai Industri Terintegrasi

