Hilirisasi Digenjot, MIND ID Bangun Rantai Industri Terintegrasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – MIND ID, sebagai holding industri pertambangan memperkuat pengembangan proyek hilirisasi mineral dan batu bara di seluruh entitas grup guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (SDA), serta mendukung ketahanan energi dan transisi energi. Langkah ini menjadi krusial untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat daya saing industri dalam negeri.
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan strategi hilirisasi difokuskan pada penciptaan nilai tambah yang berdampak langsung terhadap ekonomi nasional.
Baca Juga
MIND ID Dorong Evaluasi Hilirisasi lewat Forum KILAS Balik Ramadan
“MIND ID berkomitmen memastikan agenda hilirisasi nasional tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata dan terukur bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung ketahanan energi, transisi energi terbarukan, serta pembangunan industri masa depan Indonesia,” kata Maroef dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR RI di Jakarta, dikutip Rabu (15/4/2026).
Salah satu proyek utama yang dikembangkan adalah integrasi rantai industri bauksit hingga aluminium. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam mengelola tambang bauksit yang kemudian diolah menjadi alumina oleh PT Borneo Alumina Indonesia.
Selanjutnya, PT Indonesia Asahan Aluminium mengembangkan smelter aluminium yang didukung pasokan energi dari PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melalui pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Mempawah. Integrasi dari hulu ke hilir ini memperkuat industri nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor aluminium.
Di sektor emas, Antam juga membangun fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik dengan dukungan pasokan bahan baku dari PT Freeport Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing emas domestik untuk kebutuhan investasi.
Dorong Ketahanan Energi dan Hilirisasi Batu Bara
Untuk memperkuat ketahanan energi, MIND ID mengembangkan proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether atau DME sebagai substitusi LPG impor. Bukit Asam bertindak sebagai operator proyek dengan memanfaatkan batu bara berkalori rendah serta menyiapkan kawasan industri pendukung. Langkah ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi impor sekaligus memaksimalkan pemanfaatan sumber daya domestik.
Di sektor mineral kritis, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengembangkan pengolahan nikel berkadar rendah di Sorowako dan membangun fasilitas pengolahan berteknologi high pressure acid leach di Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako. Proyek ini menghasilkan produk antara, seperti mixed hydroxide precipitate dan feronikel yang menjadi bahan baku penting industri baterai.
Baca Juga
Emiten Tambang di Bawah MIND ID Tetap Tangguh pada 2025, DPR Apresiasi
MIND ID juga memperkuat pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik melalui integrasi rantai pasok dari tambang nikel hingga produksi sel baterai dan paket baterai di Karawang. Proyek ini mendukung peningkatan kapasitas nasional dalam memenuhi permintaan baterai kendaraan listrik yang terus tumbuh.
Pada komoditas timah, hilirisasi diarahkan pada pengolahan logam menjadi produk turunan seperti timah bubuk melalui fasilitas Batu Ausmelt dan Batu Industri. Upaya ini bertujuan meningkatkan nilai tambah serta diversifikasi produk timah nasional.
Selain pengembangan proyek fisik, MIND ID juga menyiapkan penguatan riset dan pengembangan sebagai fondasi jangka panjang. Maroef menilai riset menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing industri pertambangan Indonesia di pasar global. “Kami sangat ingin memiliki R&D sendiri, khususnya terkait pertambangan mineral dan batu bara. Dan juga yang non-teknisnya terkait laboratorium untuk persaingan pasar. Itu akan kami laboratorium-kan, sehingga kita bisa mengantisipasi pasar di luar negeri,” pungkasnya.

