Bagikan

JP Morgan: Ketahanan Energi Indonesia Lebih Tangguh dari Negara-Negara Maju, tapi Perlu Percepat Transisi Energi Berkelanjutan

Poin Penting

Indonesia dinilai relatif tangguh menghadapi krisis energi global 2026 dengan tingkat ketahanan (insulation factor) mencapai 77% menurut riset J.P. Morgan.
Kekuatan domestik pada produksi batu bara dan gas bumi menjadi bantalan utama yang mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi dibandingkan negara maju.
Meski aman dari sisi pasokan, Indonesia tetap perlu mewaspadai dampak kenaikan harga minyak global serta memanfaatkan momentum ini untuk percepatan transisi energi berkelanjutan.

JAKARTA, investortrust.id – Indonesia termasuk negara yang relatif lebih tangguh dibanding negara-negara maju dalam menghadapi krisis energi akibat perang AS-Israel versus Iran. Meski demikian, Indonesia tetap perlu mewaspadai dampak kenaikan harga minyak global serta harus memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat transisi energi berkelanjutan.

Hal itu terungkap dalam riset terbaru JP Morgan bertajuk Pandora’s Bog: the global energy shock of 2026 yang diliris baru-baru ini. Riset tersebut menggambarkan dunia yang sedang memasuki fase tekanan energi paling serius dalam beberapa dekade terakhir. Sekitar 20% pasokan minyak global terganggu, angka yang bahkan melampaui banyak krisis energi sebelumnya. Jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz menjadi titik rawan, sementara infrastruktur energi di kawasan Teluk mengalami kerusakan yang tidak bisa diperbaiki dalam waktu singkat.

Baca Juga

Pastikan Pasokan Aman di Tengah Konflik Global, Pertamina Imbau Warga Bijak Gunakan Energi

Sensivitas negara-negara di dunia terhadap migas

Laporan salah satu lembaga keuangan tertua, terbesar, dan paling berpengaruh di dunia itu menyebutkan, efek krisis harga dan pasokan minyak global menjalar cepat. Harga minyak melonjak tajam, diikuti bahan bakar turunan seperti bensin, avtur, dan bahan bakar kapal yang naik lebih cepat lagi. Pasar gas juga ikut bergejolak, terutama di Eropa dan Asia yang sangat bergantung pada impor gas alam cair (LNG).

"Dalam situasi seperti ini, ketergantungan pada energi global menjadi titik lemah yang langsung terekspos," jelas JP Morgan, dalam risetnya.

Baca Juga

Energi Masa Depan, RI Buka Investasi Rusia untuk Infrastruktur Strategis Nasional

Di tengah tekanan tersebut, menurut JP Morgan, Indonesia muncul sebagai salah satu negara yang memiliki bantalan cukup tebal. (Lihat Tabel)

Dalam pemetaan terhadap 52 negara konsumen energi terbesar dunia, Indonesia mencatat tingkat ketahanan --disebut sebagai insulation factor—sekitar 77%. Angka ini menempatkan Indonesia jauh di atas banyak negara maju yang selama ini justru dianggap lebih mapan secara ekonomi.

Indeks harga minyak dan BBM global untuk berbagai keperluan, serta ketergantungan dan kemandirian negara-negara industri. Sumber: JP Morgan

"Ketahanan ini bukan datang dari satu faktor tunggal, melainkan kombinasi struktur energi domestik yang relatif berimbang," demikian JP Morgan, dalam laporannya.

Dalam riset tersebut, produsen migas terbesar di dunia, seperti Iran, Qatar, Rusia, dan Uni Emirat Arab (UEA) dikeluarkan dari daftar karena mendapat subsidi besar dari produksi domestiknya.

Dalam kajian ini, JP Morgan mengukur seberapa sensitif suatu negara terhadap gejolak Harga migas global dan seberapa kuat mereka menyiapkan penopangnya melalui energi lain, seperti gas produksi domestik, batu bara domestik, energi terbarukan, dan energi nuklir.

JP Morgan mengelompokkan sejumlah negara paling rawan terhadap gejolak harga migas global, di antaranya Spanyol, Italia, Belanda, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.

JP Morgan menyimpulkan, Indonesia masih memiliki produksi batu bara yang besar dan menjadi tulang punggung energi nasional. Sekitar 48% konsumsi energi final berasal dari batu bara domestik. Di sisi lain, produksi gas dalam negeri juga memberi kontribusi signifikan, sekitar 22%. Ditambah dengan porsi energi terbarukan, meski belum dominan, telah membentuk lapisan perlindungan tambahan terhadap gejolak eksternal.

"Dengan struktur seperti ini, Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada impor energi, terutama gas. Ini menjadi pembeda utama dibandingkan negara-negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, atau sebagian besar Eropa yang hampir sepenuhnya mengandalkan pasokan dari luar negeri," jelas JP Morgan.

Baca Juga

Industri Migas dan Pemerintah Kompak Jaga Ketahanan Energi di Tengah Risiko Global

Keuntungan ekonomi yang diperoleh negara-negara di dunia dari ekstraksi migas. Sumber: JP Morgan

JP Morgan membuat perbandingan dengan Jepang dan Korea Selatan yang memiliki tingkat ketergantungan sangat tinggi pada impor energi, dengan paparan terhadap konsumsi minyak dan gas impor mencapai lebih dari separuh total energi mereka. Dalam kondisi harga energi global melonjak, negara-negara ini praktis tidak memiliki ruang manuver selain menyerap kenaikan biaya tersebut.

Eropa pun menghadapi dilema serupa. Ketergantungan pada gas impor, baik melalui pipa maupun LNG, membuat kawasan ini sangat sensitif terhadap gangguan pasokan. Lonjakan harga gas di Eropa menjadi salah satu yang paling tajam dalam krisis kali ini, mencerminkan betapa rapuhnya sistem energi yang terlalu bergantung pada pasar global.

"Sebaliknya, negara-negara dengan basis energi domestik kuat seperti China, India, dan Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang lebih baik. Batu bara, yang sering dipandang sebagai energi “lama”, dalam konteks krisis ini justru menjadi penyangga utama," papar JP Morgan.

Meski demikian, JP Morgan mengingatkan, bukan berarti Indonesia sepenuhnya aman. Minyak tetap merupakan komoditas global. Artinya, meskipun Indonesia memiliki sumber energi sendiri, harga minyak dunia tetap akan memengaruhi biaya energi domestik, termasuk harga BBM dan biaya logistik.

"Selain itu, dampak tidak langsung juga perlu diwaspadai. Kenaikan harga energi akan merambat ke sektor lain, mulai dari industri manufaktur hingga pangan," tulis JP Morgan dalam risetnya.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa produk petrokimia, yang menjadi bahan dasar lebih dari 95% barang manufaktur, mengalami lonjakan harga signifikan. Begitu pula pupuk, yang pasokannya terganggu karena kawasan Teluk merupakan pemasok utama urea, amonia, dan sulfur dunia. Artinya, tekanan energi bisa berkembang menjadi tekanan ekonomi yang lebih luas jika tidak dikelola dengan baik.

Namun di balik tantangan tersebut, tersimpan peluang besar. JP Morgan melihat krisis ini sebagai titik balik yang berpotensi mendorong perubahan struktural dalam sistem energi global, seperti yang terjadi pada era 1970-an. Saat itu, lonjakan harga minyak memicu revolusi efisiensi energi dan diversifikasi sumber energi di banyak negara.

Baca Juga

Meski Subsidi Melonjak Rp 230 Triliun, Pemerintah Tahan Harga BBM Hingga Akhir Tahun

"Kali ini, arah perubahan tampaknya menuju percepatan transisi energi. Negara-negara didorong untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi yang rentan terhadap risiko geopolitik, sekaligus meningkatkan efisiensi dan penggunaan energi terbarukan," jelas JP Morgan.

Bagi Indonesia, menurut JP Morgan, ini menjadi momentum penting. Ketahanan yang kini ditopang batu bara dan gas domestik bisa menjadi pijakan awal untuk melangkah lebih jauh menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan. Diversifikasi ke energi terbarukan, seperti hidro, panas bumi, dan surya, akan menentukan apakah ketahanan ini bisa dipertahankan dalam jangka panjang.

Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, pelajaran paling penting dari krisis ini mungkin sederhana: negara yang mampu berdiri di atas kaki energinya sendiri akan selalu punya posisi tawar yang lebih kuat. "Untuk saat ini, Indonesia berada di jalur yang relatif lebih aman dibanding banyak negara lain," tulis JP Morgan, dalam kajiannya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024