Penugasan Khusus Ekspor dukung Pertumbuhan Industri Makanan Olahan Jawa Timur
Poin Penting
|
GRESIK, investortrust.id - Pemerintah terus mengejar target pertumbuhan sebesar 8%. Salah satu caranya yaitu dukungan terhadap peningkatan industri di wilayah perdesaan.
“Small village harus bisa diakses semua dan ini menjadi salah satu tumpuan untuk pertumbuhan ekonomi yang targetnya 8%” kata Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko, Kementerian Keuangan, Tony Prianto, di Gresik, Jumat (17/4/2026).
Tony menjelaskan sejak 2009 pemerintah telah menggodok undang-undang mengenai Lembaga Penjamin Ekspor Indonesia (LPEI) yang salah satu mandatnya adalah penugasan khusus ekspor atau PKE. Fungsi dari PKE sendiri mendorong UMKM untuk berkembang dari sisi industri dan produksi. Di sini pemerintah akan berperan memangkas kendala ekspor yang ada.
PKE Trade Finance
Hingga 31 Desember 2025, sebaran dana penyertaan modal negara (PMN) kepada LPEI untuk PKE tercatat sebesar Rp 13,7 triliun, dengan salah satu alokasi dana terbesarnya adalah trade finance.
Hingga 2025, para eksportir telah memanfaatkan fasilitas PKE trade finance dengan total limit mencapai Rp 3,35 triliun. Adapun realisasi penyaluran sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar Rp 7,68 triliun. Sektor makanan olahan menjadi portofolio terbesar dalam PKE Trade Finance, dengan porsi mencapai 39% atau sebanyak 31 debitur.
Posisi Januari hingga Desember 2025, disbursement yang untuk program ini mencapai lebih dari Rp 13,48 triliun.
“Dan kalau kita lihat, disbursement PKE di Jawa Timur itu 25% dari total PKE. Cukup berbangga, banyak pengusaha yang mengakses PKE,” kata dia.
Baca Juga
Wagub Emil: Jawa Timur Ingin Terus jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Dalam kesempatan yang sama Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak menjelaskan, salah satu industri penopang ekspor terbesar di Jawa Timur yaitu makanan dan minuman. Selama 2025, ekspor produk makanan dan minuman dari industri di Jawa Timur mencapai US$ 2,64 miliar atau 8,7% terhadap total ekspor.
“Bisa kita lihat, ekspor makanan olahan kita di 2025 naik 13,85% secara tahunan. Ini dari diversifikasi olahan, peningkatan kualitas, perluasan ekspor dipaksa karena trade war, cari pasar-pasar alternatif,” ujar dia.
Berdasarkan paparannya, makanan yang mengandung kakao dan olahannya mendominasi ekspor makanan olahan Jawa Timur. Pada 2025, nilai ekspor makanan ini mencapai US$ 931,8 juta atau tumbuh 20,62% secara tahunan.
“Jadi ekspor produk makanan olahan ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur dan Indonesia,” kata dia.
Direktur PT Mega Global Food Industry, Richard Cahadi yakin dukungan LPEI terhadap industri makanan olahan di Jawa Timur akan membuat bisnis semakin progresif. Dia bahkan berani menargetkan ekspornya mampu tumbuh double digit pada tahun ini.
“Kita makin yakin, pertumbuhannya dari costumer semakin besar, kita bisa dapat penambahan costumer,” kata Richard.
Selama 2025, ekspor PT Mega Global Food Industry mencapai US$ 19,96 juta, atau tumbuh 45,58% dari capaian tahun 2024.

