Target Ambisius 2030, JPFA Genjot Bisnis Makanan Olahan, Bagaimana Sahamnya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) mempercepat ekspansi bisnis hilir, terutama segmen makanan olahan, sebagai strategi pertumbuhan jangka panjang hingga 2030. Perusahaan menargetkan pertumbuhan 20–30% per tahun pada lini processed food untuk memperkuat pangsa pasar di industri protein hewani.
Strategi tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas dalam riset harian yang dirilik kemarin mempertahankan rekomendasi beli saham JPFA dengan target harga Rp 2.800, bandingkan dengan harga penutupan saham ini kemarin level Rp 2.630.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan WIlastita Sofi menyebutkan bahwa JPFA menargetkan sekitar 50% produksi live bird akan terserap ke segmen makanan olahan (processed food) pada 2030 atau melonjak signifikan dari kondisi saat ini 83% masih dijual ke pasar tradisional dan hanya 17% ke processed food.
Baca Juga
Gandeng Janice Tjen, Japfa Comfeed (JPFA) Kampanyekan Pentingnya Protein Hewani
Saat ini, kontribusi segmen makanan olahan mencapai sekitar 10% dari total pendapatan dengan 45% berasal dari penjualan karkas. Sisanya berasal dari berbagai produk bernilai tambah, seperti nugget, sosis, hingga produk siap saji melalui brand So Good, Kanzler, dan Fiesta. Pada paruh pertama 2025, penjualan produk beku tumbuh 8% secara tahunan.
Perusahaan juga bersiap menghadapi penurunan kuota grand parent stock (GPS) serta regulasi Permentan 10/2024 yang mewajibkan kepemilikan rumah potong unggas bagi operator dengan populasi broiler lebih dari 60.000 ekor.
Guan memperkuat pasokan hilir, JPFA memasok karkas kepada jaringan restoran besar, seperti McDonald’s dan Richeese Factory, serta MBG sebagai off-taker terbesar kedua dengan kisaran harga Rp 32.000–Rp35.000 per kg. JPFA juga tengah menyiapkan inovasi produk baru berupa yogurt.
Baca Juga
Gandeng Koperasi Merah Putih, Japfa (JPFA) Bakal Genjot Penjualan MBG
Selain sentimen positif tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, JPFA melalui segmen pakan ternak tetap stabil dengan skema margin cost-plus yang menjaga profitabilitas di tengah volatilitas bahan baku. Harga DOC perusahaan juga berada di kisaran Rp 6.000 per kg atau Rp 500 lebih tinggi dibandingkan pesaing.
Manajemen JPFA juga menetapkan target ambisius kinerja keuangan tahun 2025 dengan proyeksi laba bersih mencapai Rp 3,8-4 triliun. JPFA menargetkan penambahan laba sekitar Rp 800 miliar per tahun, dengan ambisi menggandakan laba dalam lima tahun dan mencetak rekor tertinggi setiap tahunnya.
Belanja modal (capex) 2025 diproyeksikan mencapai Rp 2,2–2,5 triliun, lebih tinggi dari rata-rata historis Rp 2 triliun. Angka serupa diperkirakan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. JPFA juga akan melunasi obligasi dolar AS yang jatuh tempo tahun depan dan beralih ke pinjaman berdenominasi rupiah untuk menekan risiko nilai tukar.

