BSSN Sebut 5,2 Miliar Anomali Trafik Jadi Ancaman Siber, Sektor Keungan Paling Rentan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengungkap besarnya potensi ancaman siber di Indonesia yang kian meningkat seiring percepatan transformasi digital. Pada periode Januari-15 November 2025, tercatat 5,2 miliar anomali trafik yang terdeteksi dalam pemantauan nasional.
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN Slamet Aji Pamungkas menyebut fenomena ancaman siber ibarat gunung es. Sebagian besar ancaman tidak terlihat dan kerap luput dari penanganan organisasi.
“Hanya sekitar 10-20% ancaman yang terlihat di permukaan, sementara 80-90% lainnya tersembunyi,” ujarnya secara daring dalam forum kolaborasi penanganan fraud dan scam digital di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga
Meutya Hafid Siapkan 302 Peserta Magang Komdigi, Fokus Kuasai AI dan Keamanan Siber
Menurutnya, peningkatan ekonomi digital memang membuka peluang pertumbuhan, tetapi menghadirkan risiko baru yang semakin kompleks. Ancaman siber dianggap semakin canggih dan sulit dideteksi. “Hal sederhana, seperti tidak melakukan update software bisa menjadi pintu masuk serangan siber,” sambung Slamet.
BSSN mencatat dari miliaran anomali tersebut, mayoritas berpotensi berupa malware yang dapat berkembang menjadi serangan ransomware. Dalam hitungan waktu, rata-rata terjadi sekitar 182 anomali trafik setiap detik.
Slamet menjelaskan sektor keuangan menjadi salah satu target utama serangan siber, dengan tiga titik rawan, yakni nasabah, sistem pendukung (pihak ketiga), dan core system perbankan. Modus yang digunakan beragam, mulai phishing, social engineering, hingga account take over.
Ia menambahkan ancaman tidak hanya berasal dari luar, tetapi muncul dari internal organisasi maupun rantai pasok. Karena itu, penguatan sistem pengendalian internal menjadi krusial untuk memitigasi risiko fraud. “Serangan bisa melalui nasabah, pihak ketiga, bahkan dari dalam sistem itu sendiri,” tegasnya.
Untuk mencegah scam dan fraud, BSSN mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dalam melindungi data pribadi, termasuk penggunaan kata sandi kuat dan autentikasi ganda. Di sisi lain, pelaku usaha diminta memperkuat tata kelola, audit internal, serta manajemen risiko.
Baca Juga
Adopsi AI 'Booming', Risiko Siber Indonesia Tembus 14,9 Juta Serangan
"BSSN menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor baik dari pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas guna membangun ketahanan siber nasional," sambung Slamet.
Bagi BSSN, langkah ini penting untuk melindungi ekosistem ekonomi digital yang semakin menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

